Category Archives: Budaya

Siteran Nyamleng – GambirSawit

imagebam.com
Siter atau celempung merupakan salah satu alat musik tradisional penyusun ansambel musik gamelan. Bentuk fisiknya Siter memiliki sebelas senar yang dibentangkan diantara kotak resonator. Cara memainkan yaitu dengn dipetik pada bagian senarnya dengan menggunakan ibu jari, jari lainnya digunakan untuk menahan getarannya, dan memiliki nada yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan instrumen gamelan lainnya.
Untuk memainkan atau Siteran diperlukan 3 atau 4 personil, yang masing-masing memegang Kendhang, Siter dan Gong Kemodhong (gong bambu). Musik tradisional Siteran ini sudah langka kita jumpai, seiring dengan perkembangan teknologi dunia permusikan yang gencar. Menjadi tugas kita bersama untuk tetap melestarikan budaya leluhur kita, agar tetap eksis ditengah-tengah maraknya teknologi permusikan.
Itulah sekilas gambaran tentang musik tradisional Siteran yang kian meredup pamornya.
Selamat menikmati indahnya alunan musik tradisional Siteran asli budaya Nusantara Gambir Sawit berikut ini dengan pesindhen Niken Larasati.

Leave a Comment

Filed under Budaya, gendhing jawa, Musik

Gamelan Degung Parahyangan – Beber Layer

imagebam.com

Gamelan degung Parahyangan RRI Bandung, degung lingkung seni Parahyangan asuhan E. Tjarmedi bersama beberapa pesinden I. Suwarsih, T. Rukaesih, M. Suryamah dann E, Rosita, dalam lagu degungnya : Beber Layer, Luyung Sari, Landrak, Gambir Sawit.

  1. Beber Layer
  2. Luyung Sari
  3. Ladrak
  4. Paksi Tuwung
  5. Kembang Kapas
  6. Cirebonan
  7. Gambir Sawit

Leave a Comment

Filed under Budaya, Musik

Gending ciptaan Ki. Tjokrowasito

KRT. Wasitodipuro atau disebut pula Ki. Tjokrowasito, KPH. Notoprojo, KRT. Wasitodiningrat adalah empu karawitan dan seniman gemelan Jawa yang paling dihormati. Semasa mudanya beliau bernama Wasi Jolodoro  yang lahir di Yogyakarta 17-03-1909. Sebagai seorang komposer dan pemain rebab yang handal ini pernah mengajar gamelan di Institut Seni California, dan juga sebagai pemimpin Gamelan Pura Paku Alaman di RRI. Yogyakarta.
Ki. Tjokrowasito juga sebagai pemain gending Ketawang Puspawarana yang menjadi salah satu musik yang dikirim ke angkasa luar dalam wahana Voyager tahun 1977 untuk mewakili peradaban manusia di jagad raya.
Berikut ini gending-gending karya Ki. Tjokrowasito,  bersama ISI Yogyakarta diantaranya :

2 Comments

Filed under Budaya, gendhing jawa, Musik

Gending Ayun Ayun Gobjog

Gending Ayun-Ayun lahir di abad 18 atau kurang lebih tahun 1820 an pada masa Paku Buwana V. Ayun-Ayun merupakan komposisi gending karawitan jawa klasik yang menceritakan tentang seorang yang sedang jatuh cinta, seorang yang mengayun-ayun yang mempunyai perasaan senang.
Seiring perkembangan seni budaya, oleh para seniman gending ayun-ayun garap klasik kemudian digarap ke menjadi ayun-ayun gobjog, dan terakhir garap lagi menjadi ayun-ayun tanjung gunung.
Berikut gending ladrang Ayun-Ayun |permintaan Mas T.A. Priyonggo|

Ayun ayun gobjog gawe gumun tekun
Sarwa rukun akeh kang kayungyun
Dadi sarana iku datan jemu
Nyawiji ing panemu condhong ing kalbu.

AyunAyun Tanjung Gunung:
>Rino wengi, aku tansah ngayun-ayun, sesinome tanjung argo, anguyun ayun panggalih.
>Lir mulat randhu kang kenthar, aku kang sedyo nututi, mring bathari Supadmi, eseme lir sepet madu.
>Dasare ambudaya, ingudi murih lestari, kang wus nyoto, lahir bathin condong roso.

Leave a Comment

Filed under Budaya, gendhing jawa, Musik

Mengenang Seniman Kondang Rusman dan Darsi

imagebam.com
Pak Rusman (alm) adalah seniman kondang tiga zaman yang kaloka dengan sebutan “Gatutkacca Sriwedari” dengan suara emas dan lantang yang selalu mengumandang saat berdendang diiringi gending gending jawa. Tak mustahil beliau sempat berkeliling dunia dengan kosttum “GATUTKACA” Rahwana atau sebagai tokoh yang lain. Begitu pula Ibu Darsi (alm) yang mempunyai suara merdu dengan perannya sebagai “Pregiwa” dalam adegan Gatutkaca Pregiwa ataupun Gatutkaca Gandrung.

Berikut fragmen adegan Rusman dan Darsi :

Leave a Comment

Filed under Audio, Budaya, gendhing jawa, Musik

Gendhing-Gendhing Laggam Jawa

Gendhing Langgam Jawa dengan musik gamelan yang penuh dengan falsafah dan pitutur utama bagi kehidupan pada umumnya.
Salah satu langgam jawa “Babon Angrem” karya/penyusun Cipto yang diawali dengan bawa sekar macapat Asmaradana yang ngemut (memuat piwulang) seperti ini :

“Wus dadi jangkaning nagri, Denya hanggayuh kabagyan, Kanthi ngatur klahirane, Pra putra lan bale wisma, Marsudi kasarasan, Nora kendhat wulang wuruk, Njalari mring katentreman”.

Syair Langgam nya :
“Wiwit iki pakne thole kudu wis mangerti, Bab sing endi aja nganti amberung mung anuruti ati, Mikir ena karepotan kita tembe buri, Tak saguhi pisan kudu bisa ngatur marang klahirane, Tansah dadi ati para putra kang sartane anggula wenthahe, Amarsudi kasarasan banget maedahe, Banget maedahe kabeh kuwi mau uga bisa handayani, Hanjalari kula warga bagya sejahtera kang sejati”.

Leave a Comment

Filed under Audio, Budaya, gendhing jawa, tembang jawa

MasKumambang = Awal dimulainya Kehidupan

MasKumambang merupakan salah satu tembang macapat karya K.G.P.A.A Mangkunagara IV. MasKumambang berasal dari kata Mas yang artinya sesuatu yang terhormat, dimaknai sebagai emas yang terapung (emas kumambang), Kumambang merupakan kata jadian dari akar kata kambang (terapung).
MasKumambang atau awal dimulainya kehidupan, awal mulai perjalanan hidup manusia yang masih berupa embrio di dalam kandungan ibunya, masih belum diketahui jati dirinya (laki-laki atau perempuan).
Kehamilan berlangsung selama 280 hari atau 10 bulan atau 40 minggu, terhitung dari hari pertama haid terakhir. Oleh para pemuka agama meyakini bahwa ruh di tiupkan pada janin saat berusia 120 hari terhitung sejak bertemunya sel sperma dengan ovum.
Secara keseluruhan, tembang macapat sejatinya bercerita tentang perjalanan hidup manusia yang menggambarkan bagaimana seorang manusia hidup sejak lahir mulai belajar dari kanak-kanak, dewasa dan pada akhirnya meninggal. Masing-masing arti dari tembang macapat melambangkan watak atau karakter tersendiri, mulai dari watak sedih atau duka, nasehat, percintaan, kasih sayang hingga kebahagiaan.

Berikut salah satu tembang MasKumambang yang ngemut piwulang luhur.

Wong tan manut pitutur wong tuwa ugi, ha nemu duraka, ing donya tumekeng akhir, tan wurung kasurang-surang.
Menggambarkan tentang akibat seseorang yang tidak patuh terhadap orang tua. Seorang anak yang durhaka tentu akan mendapatkan kesengsaraan, baik di dunia hingga akhir nanti.

Maratani mring anak putu ing wuri, den padha prayitna, ajana kang kumawani, ing bapa tanapi biyang.
Hingga kelak ke anak cucu, oleh karena itu perhatikan sungguh-sungguh, jangan engkau kurang ajar kepada ayah atau ibu.

[sumber foto : kesolo.com]

2 Comments

Filed under Budaya, Musik, Renungan, tembang jawa

Yudistira ksatria berdarah Putih

Yudistira, atau Puntadewa atau Prabu Darmakusuma adalah sebagai Raja Amarta. Saudara kandung Bima dan Arjuna dan saudara tiri Nakula dan Sadewa. (Kelimanya disebut Pandawa Lima).

Prabu Yudistira adalah raja Amarta dan ksatria berdarah putih. Ia tak pernah marah, tak pernah berbohong, dan sangat mengutamakan hidup yang damai. Ia sangat dicintai oleh kawulanya karena sabar, murah hati, dan penuh empati. Sangat memahami dan mau mengerti keadaan kawula dan pejabat negaranya. Ia juga memiliki pandangan yang terbuka. Jika Prabu bertitah dan bertindak, itu bukan kepentingan sang Raja dan keluarganya, tetapi demi kepentingan sesama manusia yang ada di muka bumi. Keluarga Pandawa menginginkan buwana seisinya ada dalam damai sejahtera penuh suka cita.
imagebam.com

Prabu Yudistira, walau dikatakan tidak pernah marah, suatu ketika marah juga yaitu ketika saudaranya dimasukkan ke neraka oleh Dewa. Ia marah dan menjelma menjadi raksasa bernama Dewa Amral.
Dalam sisi hidupnya ada hal yang sangat disesali Yuudistira, ketika ia harus berbohong kepada Guru Drona dalam perang Bharatayuda, atas nasihat Kresna. Itulah satu-satunya kebohongan yang pernah ia lakukan. Sejak itu derajat luhur bagai dewa diturunkan oleh dewata, dan seolah dicampakkan menjadi makhluk biasa Prabu Yudistira mempunyai pusaka kerajaan bernama Azimat Kalimasada, Payung Kyai Tunggulnaga, dan Tombak Kyai Karawelang. Continue reading

1 Comment

Filed under Budaya, Renungan

Kembar Mayang = Gagar Mayang

imagebam.com

Kembar Mayang atau sering disebut Gagar Mayang atau Megar Mayang merupakan salah satu unsur yang terdapat dalam upacara tradisional Jawa, biasanya digunakan pada upacara perkawinan maupun kematian apabila orang yang meninggal itu masih lajang atau belum pernah menikah, uaitu perawan atau jejaka. Kembar Mayang juga dapat diartikan sepasang hiasan simbolik yang terbuat dari rangkaian Janur, debog (batang pohon pisang), buah dan kembang panca warna. Bentuknya menyerupai seperti pohon Kalpataru, pohon Kaswargan (jawa), seperti ukiran dalam Candi Prambanan.

Kembar Mayang selalu ditampilkan berpasangan yang maksudnya adalah di wujudkan dalam bentuk yang sama tetapi bukan dalam arti jantan dan betina. Dalam meletakkan Kembar Mayang selalu dalam jajaran kiri dan kanan, karena melambangkan bahwa segala hal yang suci, jujur dan baik diletakkan di sebelah kanan, sedangkan hal yang serba buruk, kebatilan dan kebohongan selalu diletakkan di sebelah kiri pasangan pengantin. Dengan demikian dalam kehidupan masyarakat Jawa, Kembar Mayang mempunyai makna filosofis yang mencerminkan hubungan manusia dengan lingkungan.

Kembar Mayang dan Prosesi Midodareni
Sepasang Kembar Mayang dibuat dan dipersiapkan sejak acara Midodareni, Biasanya sepasang Jejaka dan Gadis Perawan mengusung Kembar Mayang dengan disertai sepasang cengkir gading saat Upacara Panggih Pengantin. Dalam acara Midodareni ini terdapat rangkaian acara yang dinamakan Upacara Nebus Kemba Mayang.
Pada acara yang sakral pada rangkai ini, menceritakan bahwa pihak pemangku hajat minta pertolongan kepada tokoh Ki Saroyo Jati untuk mencarikan sepasang Kembar Mayang. Oleh Ki Saroyo Jati dengan blusukannya akhirnya didapatlah Kembar Mayang dari seseorang yang bernama Ki. Jati Waseso, seperti dialog berikut ini :

UPACARA NGUPADI TUMURUNUNG WAHYU JODHO
(NEBUS KEMBAR MAYANG)
Adegan I : Ingkang Hamengku gati hanimbali Sang Saraya Jati, lajeng sami pangandikan, binarung Ktw. Sekartejo Sl.MySaraya Jati :
Nuwun mangke ta Bapa ……………………. (ingkang mengku gati) handadosaken kagyating manah kulo seneng tampi dhawuh timbalan panjenengan anggenipun sakalangkung wanter. Wonten paridamel punapa dene hamiji sowan kula sumangga keparenga paring pangandika dhumateng kawula.Hamengku gati :
Adhimas Saraya Jati, ing dalu kalenggahan punika kula katangisan anak kula estri pun Rara …………………….. ingkang ing benjing-enjing siyang/dalu badhe nambu silaning akrami, mugi antuka tumuruning Wahyu Jodho. Ingkang puniko, keparenga kawula hangresaya dhumateng panjenengan mugi kersoa angupadi tumuruning Wahyu Jodho ingkang awujud Sekar Mancawarna ugi sinebat Kembar Mayang, kinarya jangkeping panggihing calon pinangantyan kekalih. Dene menawi sampun pikantuk mugi lajeng kersoa hamboyong kaasta tumuju ing wisma pawiwahan.

Saraya Jati :
Nuwun inggih sendika ngestokaken dhawuh. Wonten ing pundi papan dunungipun Sekar Mancawarna utawi Kembar Mayang punika.

Hamengku Gati :
Miturut wasita ingkang kula tampi, papan dunungipun Sekar Manawarna punika wonten ing padhepokan …………………., kabawah wewengkon ……………………..

Saraya Jati :
Nuwun inggih, rehning sampun cetha lan trawaca dhawuh timbalan panjenengan, keparenga kawula nyuwun pamit madal pasilan bidhal dinten punika daya-daya lebda ing karya.

Hamengku Gati :
nDerekaken raharjaning lampah, mugi rahayu boten wonten pringga bayaning
marga.

Keterangan : Bidhalipun Sang Saraya Jati saking pawiwahan, binarung ungeling
Ketawang Tumadhah, laras pelog pathet nem.

Adegan II : Ing padepokan ………………., Ki Jati Wasesa anengga Kembar Mayang, sinambi maos Sekar Macapat Dandhanggula.

1.Kaki hamung nyai hamung sami
Kang sumulih nebus Kembar Mayang
Yekti minangka pepasrahan
Wiwit ing dinanipun
Kang wus dadi ndara sayekti
Kiwa tengen dinata
Kanan kirinipun
Temanten deniro lenggah
Amimbuhi ngenguwung cahya munari
Temanten sekalian

2.Kembar Mayang werdine wus muni
Kembar pada mayang iku kembang
Yekti dadi kudangane
Supaya atut runtut
Wiwit daup ngantos ing benjing
Rukun amanggih mulya
Ngantos darbe turun
Kakung putrid mung sumangga
Mrih sembada kahangkao naming kalih
Ambangun kulawarga

3.Pambanguning kulawarga yekti
Adoh angger iku perlokno
Pranyata gede gunane
Sandang pangan kecukup
Kawruh bakal mumpuni ngudi
Manggon ora suksukan
Kasarasan tuhu
Rama lan Ibu kang bakal
Gula wentah putra putrine sayekti
Hayu-hayuning bala

Sasampunipun suwuk katungka dhatengipun Sang Saraya Jati, lajeng sami
pangandikan

Saraya Jati :
Kawula nuwun Kyai, keparenga kula badhe sowan
Jati Wasesa :
Mangga ……….. mangga kisanak, lajeng pinarak mlebet kemawon, mangga ta keparenga pinarak ing palenggahan ingkan sampun sumadya.

Saraya Jati :
Matur nuwun sanget Kyai, sak derengipun nyuwun pangapunten, dene sowan kula sakadang boten atur cecela langkung rumiyin

Wasesa Jati :
Boten dados punapa kisanak, semanten ugi kula inggih nyuwun pangapunten, mbok menawi anggen kula nampi karawuhan panjenengan sakadang kirang subasita, jalaran inggih naming kados mekaten kawontenanipun. Nuwun mangke ta kisanak, keparenga kula hanila-krami, wingking saking pundi saha sinten asma panjenengan
keraya-raya rawuh ing padhepokan ngriki kisanak.

Saraya Jati :
Nuwun inggih Kyai, keparenga kula badhe nepangaken, kula sakadang wingking saking …………………… (nyebtaken panggenanipun ingkang mengku gati), name kula pun Saraya Jati. Dene wigatosipun sowan kula sakadang punika pinangka dados duta saraya saking panjenenganipun Bapa/Ibu …………………………….. (ingkang mengku gati), saperlu hangupadi tumuruning Wahyu Jodho ingkang sampun cinandhi wonten ing Kembar Mayang, pinangka kangge sarat sarana anggenipun badhe kagungan kersa ngemah-emahaken putra putrinipun sarta kangge hanjangkepi ing upacara panggihing sri temanten. Punapa pancen ing ngriki dunungipun Kembar Mayang kala wau Kyai.

Jati Wasesa :
Nuwun inggih, saderengipun kula pratela dhumateng panjenengan ingkang rumiyin kula ugi nepangaken, bilih ingkang kasdu hamestani kula pun Ki Jati Wasesa. Dene padhepokan kula mriki winastan ………………… Pancen leren, inggih ing padhepokan ………………….. ngriki punika cumdhokipun Sekar Mancawarna ingkang
sinebat Kembar Mayang. Kayu Klepu Dewandaru, Cengkir Gadhing Kedhitipitu, punapadene Sadak Lawe.

Saraya Jati :
Manggih keleresan Kyai, inggih puniko ingkang dipun kersakaken dening panjenenganipun Bapa ……………….. (ingkang mengku gati). Ingkang punika mugi wontena keparenging penggalih tumunten Kembar Mayang kaparingna dumateng kula. Dene menawi pengaji pinten kerta ajinipun, menawi mawi leliru punapa lelirunipun,
waton kula saged hamboyong Kembar Mayang punika Kyai.

Jati Wasesa :
Miturut wawangsoning jagad, boten saged dipun tumbas kanthi punapa kemawon, naming sok sintena ingkang saged anegesi naminipun Kembar Mayang kanthi jangkep saha trep, inggih punika ingkang saged hamboyong wujudipun Kembar Mayang punika.

Saraya Jati :
We lha dalah, lha kok abot sangganipun Kyai, gandeng kula sampun sumanggem dados duta ngrampungi, sanadyan kados pundi kemawon badhe kula leksanani. Nyuwun pangestu Kyai Kembar Mayang, Klepu Dewandharu, Cengkir Gadhing Kendhitpitu, Sadak Lawe. Kembar Mayang tembung Kembar punika tegesipun padha. Tembung Mayang punika tegesipun Nur utawi Cahya, wonten ingkang mestani Kembang Jambe. Kembar Mayang punika mujudaken blegering kakung lan putrid. Kakung lan putri punika satemenipun sami, dene ingkang benten wadhahipun. Dene Nur utawi Cahya kalawau lenggahipun wonten ing rasa jati, ingkang dipun westani Urip utawi gesangipun. Tiyang jejodhohan punika menawi kepingin langgeng kekalihipun kedah saged manunggalaken rasanipun. Inggih manungaling rasa jati punika ingkang saged hambabar katentreman sarta saged hanggelar pakarti luhur. Inggih punika ingkang winastan garwa utawi sigaraning nyawa winastan kembar rasane. Kayu Klepu, Dewandharu ; Kayu-kayun, klepu-klepeng. Dewa titah ingkang luhur. Daru darajating agesang, dados loro-lorone ngatunggal sampun sagolong gayut darajating agesang. Cengkir Gadhing Kendhipitu ; Cengkir kencenging piker, gadhing gadhang, kendhi pitu, pangiket ingkang kiat sanget. Dados ringkesipun loro-lorone atunggal samya
angiket raos katresnan. Sadak Lawe; Biyen sanak saiki dadi jodhone Kyai, gaduk kula naming semanten, dene leres lan lepatipun kawula sumanggaken

Jati Wasesa :
Sang Saraya Jati, sarikma pinara sasra, kula boten nyana bilih panjenengan ingkang saged anegesi kanti trep lan jangkep, mbok menawi inggih sampun dados kodrating jagad, bilih panjenengan ingkang kawawa hamboyong Kambar Mayang punika. Namung kajawi punika wonten sarat sarananipun, Sepisan, pamboyonging Kembar Mayang kaemban jejaka kalih, Kaping kalih, Cengkir gadhing sak pirantosipun kaasta Kenya Dhomas. Kaping tiga, lampahing Kembar Mayang kabiwadha gendhing Ilir-ilir Sumilir. Wondene kang wekasan, murih boten alum pradapa Sekar Mancawarna, supados dipun saranani mawi rengeng-rengeng kekidungan boten ketang satunggal
kalih pada.

Saraya Jati :
Nuwun inggih Kyai, badhe kula estokaken sadaya sarat sarananipun, wondene rengeng-rengeng kekidungan sanadyan hamung sapala, sumangga keparenga midhangetaken.

Pangkur :
Yektine kang winurseta,
Kembang Kanthil lambanging ati suci,
Suci murni tresnanipun,
tansah manunggal karsa,
Sri temanten nggennya mangun brayatipun,
tulusa widodo mulya,
linambaran tresna jati.

Kinanthi :
Dhuh Gusti Ywang Maha Agung, mugi kersa hamberkahi, mring temanten kekalihnya, nggennya mangun brayat sami, bagya mulya kang sinedya, rahayu ingkang pinanggih.
Kyai, kalih pada punika kewala atur kekidungan kula, mangka jangkeping sarana pamboyonging Sekar Mancawarna. Kiranging sadayanipun, ingkang boten dados renaming penggalih, mugi diagung pangaksamanipun.

Jati Wasasa :
Sang Saraya Jati, saking keprananing manah kula, wekdal punika ugi Kembar Mayang kula pasarahaken, sumangga tumunten kula aturi hanampi.

Saraya Jati :
Kyai, rehning sampun cekap samudayanipun, keparenga kawula nyuwun pamit madal pasilan, lan nyuwun pangestu mugi tansah manggiha bagya mulya salampah
kula.

Jati Wasesa :
Sang Saraya Jati, sapengker panjenengan kula pranggal puja sesanti jaya-jaya wijayanti, sirna memala pinayungan sahing Gusti, hayu-hayu rahayu ingkang sami pinanggih. Gendhing Ilir-ilir Sumilir, Sang Saraya Jati sakadang hamboyong Kembar Mayang Adegan III : Ingkang Hamengku Gati hanampi rawuhipun Sang Saraya Jati sakadang angasta Kembar Mayang, lajeng sami pangandikan.

Saraya Jati :
Kepareng matur dhumateng Bapa ………………………. (ingkang mengku gati), inggih awit saking berkah saha pangestu panjenengan, kula sampun kelampahan hamboyong wujudipun Kembar Mayang, ingkang punika sumangga kula aturi nampi, mugi sageda kinarya sarana dhaupipun ingkang putra.

Hamengku Jati :
Adhimas Saraya Jati, kula tampi kanthi bingahing manah, lan awit saking sih pitulungan panjenengan, kula sakulawarga naming saged hangaturaken gunging panuwun tanpa upami. Nuwun, matur nuwun. Penutup : Gendhing Ayak-ayakan, laras slendro pathet manyura, para paraga tangkep asta, lajeng bibaran.

Gending-gending untuk mengisi acara upacara nebus kembar mayang dapat di lihat kesini.

Itulah sekilas tentang Kembar Mayang untuk perhelatan hajat pernikahan adat Jawa.

2 Comments

Filed under Budaya

Gending pengisi Resepsi Pernikahan

Berikut ini gending-gending jawa untuk mengisi penyelenggaraan resepsi pernikahan gagrag atau versi Surakarta Hadiningrat. Pada saat prosesi panggih dilantunkan gending Kodok Ngorek dan Larasmoyo, sungkeman dengan gending Mugirahayu, prosesi krobongan dilantunkan gending Sri Widodo, dan lain lagi yang biasanya lazim dilantunkan.
Sementara gending-gending lainnya sebagai pengisi acara resepsi pernikahan dapat dipilih seperti : Gending Bondet, Gending Raket terus Ladrang Pamudya.
Gending Bondet bermakna bergandengan tangan berdampingan dengan mesra. Melambangkan cinta kasih mengandung harapan ketentraman lahir batin.
Bondet [Nyi. Tambangraras pesinden kaloka]

Gending Raket bermakna sebagai simbol agar kedua pengantin selalu merapat, raket, rukun dan menyatu.

Dan gending dolanan Lepetan [simak lirik atau cakepannya].
|Itulah gending2 yang bakal menghiasi acara mantu Kahiyang Ayu|

1 Comment

Filed under Budaya, gendhing jawa