Category Archives: Budaya

Gending Lancaran karya cipta Ki. Tjokrowasito

Berikut ini gending lancaran ciptaan Ki. Tjokrowasito yang juga mempunyai nama KRT. Wasitodipuro, KRT. Wasitodiningrat, KPH. Notoprojo. Beliau adalah seorang empu karawitan, seniman Jawa yang sudah tidak diragukan lagi keahliannya dibidang seni. Sebagai pengajar di Institut Seni California, dan pengajar seni karawitan di berbagai belahan dunia. Ia mempunyai peran penting dalam menyebar luaskan apresiasi dan pengetahuan tentang gamelan jawa di berbagai negara. Tahun 1980 Ki. Tjokrowasito dikukuhkan sebagai Profesor dari California Institut of The Arts.

Inilah beberapa diantaranya gending lancaran hasil karya cipta Ki. Tjokrowasito.

“Keseluruhan karya gending tersebut mengandung pesan-pesan normatif yang menyangkut hubungan manusia dengan alam, manusia dengan politik, hingga keranah spiritual seperti gending Sambang Dalu.
Ada sebuah pesan keheningan yang mengajak kita berfikir ulang tentang makna-makna kehidupan ditengah carut marutnya berbagai kondisi yang terjadi belakangan ini.
Keadaan di Indonesia pada masa kini, adalah pertarungan gamelan di tengah politik global, ditengah komodifikasi seni instan yang tidak jelas orientasinya”.

|Dengan Gamelan itulah terpendam nilai-nilai spiritual sebagai pegangan hidup paling hakiki|

Leave a Comment

Filed under Budaya, gendhing jawa, Musik

Santiswara musik bernafaskan Islami

Musik dan lagu-lagu Santiswara berisi ajaran Islam. Syair dan lagunya berisikan doa-doa, puji-pujian, dan petuah bijak di jalan agama. Nada-nada indah mengiringi lantunan dari segala sembah dan puji bagi keagungan Tuhan serta shalawat Sang Nabi Muhammad yang dikemas dalam bentuk gendhing.
Senandung doa-doa berpadu secara harmonis dengan seperangkat kecil gamelan (kemanak, kendang, trebang). Gabungan dari ketiga perangkat gamelan kecil itu memberikan nuansa yang hening, sakral dan magis.
SantiSwara mempunyai arti Santi = doa dan Swara berarti senandung lagu atau suara (swara). Santiswara sebagai wahana penyebaran nilai-nilai mulia spiritual Islam.
Kesenian ini mengkondisikan kejernihan hati pendengarnya, sebagai awal yang dibutuhkan oleh jiwa agar mampu meresapi pesan-pesan mulia dari ajaran agama. Pesan moral tentang kebaikan yang bersifat universal bagi semua kalangan, sehingga kesenian ini mampu menembus sekat-sekat perbedaan dan bisa diterima oleh sesama orang.

Berikut lagu-lagu santiswara bernuasa Islami.

Leave a Comment

Filed under Budaya, Musik

Uyon-Uyon Nyamleng ISI Surakarta

Institut Seni Indonesia (ISI) merupakan kawah chandra dimuka tempat menimba ilmu seni budaya untuk mencetak seniman seniman yang handal, mumpuni dan kadar intelektual yang baik. Disinilah membuktikan bahwa budaya seni gamel ini masih tetap eksis seiring dengan kemajuan peradaban dunia.
Tentunya bangga saya sebagai orang Indonesia. Namun sebenarnya juga manggayut rasa miris, sebab fenomena masyarakat urban kini nampak justru kurang mengapresiasi terhadap musik gamelan. Orkestra asli (indigenous orchestra) ini kini tidak terlihat ditempatkan sebagai entitas budaya yang signifikan. Lebih ironis lagi justru dilakukan oleh bangsa lain.
Disinilah pentingnya kita tetap menjaga dan melestarikan budaya adiluhung ini. Terus dan tumbuh kembangkan musik tradisional Nusantara ini.
Inilah beberapa alunan musik gamelan yang indah dan menyejukkan olah kiprah para Sarjana/Magister Seni Institut Seni Indonesia Surakarta.

“Jadikan Budaya sebagai indentitas bangsa”

Leave a Comment

Filed under Budaya, gendhing jawa, Musik

Siteran Nyamleng – GambirSawit

imagebam.com
Siter atau celempung merupakan salah satu alat musik tradisional penyusun ansambel musik gamelan. Bentuk fisiknya Siter memiliki sebelas senar yang dibentangkan diantara kotak resonator. Cara memainkan yaitu dengn dipetik pada bagian senarnya dengan menggunakan ibu jari, jari lainnya digunakan untuk menahan getarannya, dan memiliki nada yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan instrumen gamelan lainnya.
Untuk memainkan atau Siteran diperlukan 3 atau 4 personil, yang masing-masing memegang Kendhang, Siter dan Gong Kemodhong (gong bambu). Musik tradisional Siteran ini sudah langka kita jumpai, seiring dengan perkembangan teknologi dunia permusikan yang gencar. Menjadi tugas kita bersama untuk tetap melestarikan budaya leluhur kita, agar tetap eksis ditengah-tengah maraknya teknologi permusikan.
Itulah sekilas gambaran tentang musik tradisional Siteran yang kian meredup pamornya.
Selamat menikmati indahnya alunan musik tradisional Siteran asli budaya Nusantara Gambir Sawit berikut ini dengan pesindhen Niken Larasati.

Leave a Comment

Filed under Budaya, gendhing jawa, Musik

Gamelan Degung Parahyangan – Beber Layer

imagebam.com

Gamelan degung Parahyangan RRI Bandung, degung lingkung seni Parahyangan asuhan E. Tjarmedi bersama beberapa pesinden I. Suwarsih, T. Rukaesih, M. Suryamah dann E, Rosita, dalam lagu degungnya : Beber Layer, Luyung Sari, Landrak, Gambir Sawit.

  1. Beber Layer
  2. Luyung Sari
  3. Ladrak
  4. Paksi Tuwung
  5. Kembang Kapas
  6. Cirebonan
  7. Gambir Sawit

Leave a Comment

Filed under Budaya, Musik

Gending ciptaan Ki. Tjokrowasito

KRT. Wasitodipuro atau disebut pula Ki. Tjokrowasito, KPH. Notoprojo, KRT. Wasitodiningrat adalah empu karawitan dan seniman gemelan Jawa yang paling dihormati. Semasa mudanya beliau bernama Wasi Jolodoro  yang lahir di Yogyakarta 17-03-1909. Sebagai seorang komposer dan pemain rebab yang handal ini pernah mengajar gamelan di Institut Seni California, dan juga sebagai pemimpin Gamelan Pura Paku Alaman di RRI. Yogyakarta.
Ki. Tjokrowasito juga sebagai pemain gending Ketawang Puspawarana yang menjadi salah satu musik yang dikirim ke angkasa luar dalam wahana Voyager tahun 1977 untuk mewakili peradaban manusia di jagad raya.
Berikut ini gending-gending karya Ki. Tjokrowasito,  bersama ISI Yogyakarta diantaranya :

2 Comments

Filed under Budaya, gendhing jawa, Musik

Gending Ayun Ayun Gobjog

Gending Ayun-Ayun lahir di abad 18 atau kurang lebih tahun 1820 an pada masa Paku Buwana V. Ayun-Ayun merupakan komposisi gending karawitan jawa klasik yang menceritakan tentang seorang yang sedang jatuh cinta, seorang yang mengayun-ayun yang mempunyai perasaan senang.
Seiring perkembangan seni budaya, oleh para seniman gending ayun-ayun garap klasik kemudian digarap ke menjadi ayun-ayun gobjog, dan terakhir garap lagi menjadi ayun-ayun tanjung gunung.
Berikut gending ladrang Ayun-Ayun |permintaan Mas T.A. Priyonggo|

Ayun ayun gobjog gawe gumun tekun
Sarwa rukun akeh kang kayungyun
Dadi sarana iku datan jemu
Nyawiji ing panemu condhong ing kalbu.

AyunAyun Tanjung Gunung:
>Rino wengi, aku tansah ngayun-ayun, sesinome tanjung argo, anguyun ayun panggalih.
>Lir mulat randhu kang kenthar, aku kang sedyo nututi, mring bathari Supadmi, eseme lir sepet madu.
>Dasare ambudaya, ingudi murih lestari, kang wus nyoto, lahir bathin condong roso.

Leave a Comment

Filed under Budaya, gendhing jawa, Musik

Mengenang Seniman Kondang Rusman dan Darsi

imagebam.com
Pak Rusman (alm) adalah seniman kondang tiga zaman yang kaloka dengan sebutan “Gatutkacca Sriwedari” dengan suara emas dan lantang yang selalu mengumandang saat berdendang diiringi gending gending jawa. Tak mustahil beliau sempat berkeliling dunia dengan kosttum “GATUTKACA” Rahwana atau sebagai tokoh yang lain. Begitu pula Ibu Darsi (alm) yang mempunyai suara merdu dengan perannya sebagai “Pregiwa” dalam adegan Gatutkaca Pregiwa ataupun Gatutkaca Gandrung.

Berikut fragmen adegan Rusman dan Darsi :

Leave a Comment

Filed under Audio, Budaya, gendhing jawa, Musik

Gendhing-Gendhing Laggam Jawa

Gendhing Langgam Jawa dengan musik gamelan yang penuh dengan falsafah dan pitutur utama bagi kehidupan pada umumnya.
Salah satu langgam jawa “Babon Angrem” karya/penyusun Cipto yang diawali dengan bawa sekar macapat Asmaradana yang ngemut (memuat piwulang) seperti ini :

“Wus dadi jangkaning nagri, Denya hanggayuh kabagyan, Kanthi ngatur klahirane, Pra putra lan bale wisma, Marsudi kasarasan, Nora kendhat wulang wuruk, Njalari mring katentreman”.

Syair Langgam nya :
“Wiwit iki pakne thole kudu wis mangerti, Bab sing endi aja nganti amberung mung anuruti ati, Mikir ena karepotan kita tembe buri, Tak saguhi pisan kudu bisa ngatur marang klahirane, Tansah dadi ati para putra kang sartane anggula wenthahe, Amarsudi kasarasan banget maedahe, Banget maedahe kabeh kuwi mau uga bisa handayani, Hanjalari kula warga bagya sejahtera kang sejati”.

Leave a Comment

Filed under Audio, Budaya, gendhing jawa, tembang jawa

MasKumambang = Awal dimulainya Kehidupan

MasKumambang merupakan salah satu tembang macapat karya K.G.P.A.A Mangkunagara IV. MasKumambang berasal dari kata Mas yang artinya sesuatu yang terhormat, dimaknai sebagai emas yang terapung (emas kumambang), Kumambang merupakan kata jadian dari akar kata kambang (terapung).
MasKumambang atau awal dimulainya kehidupan, awal mulai perjalanan hidup manusia yang masih berupa embrio di dalam kandungan ibunya, masih belum diketahui jati dirinya (laki-laki atau perempuan).
Kehamilan berlangsung selama 280 hari atau 10 bulan atau 40 minggu, terhitung dari hari pertama haid terakhir. Oleh para pemuka agama meyakini bahwa ruh di tiupkan pada janin saat berusia 120 hari terhitung sejak bertemunya sel sperma dengan ovum.
Secara keseluruhan, tembang macapat sejatinya bercerita tentang perjalanan hidup manusia yang menggambarkan bagaimana seorang manusia hidup sejak lahir mulai belajar dari kanak-kanak, dewasa dan pada akhirnya meninggal. Masing-masing arti dari tembang macapat melambangkan watak atau karakter tersendiri, mulai dari watak sedih atau duka, nasehat, percintaan, kasih sayang hingga kebahagiaan.

Berikut salah satu tembang MasKumambang yang ngemut piwulang luhur.

Wong tan manut pitutur wong tuwa ugi, ha nemu duraka, ing donya tumekeng akhir, tan wurung kasurang-surang.
Menggambarkan tentang akibat seseorang yang tidak patuh terhadap orang tua. Seorang anak yang durhaka tentu akan mendapatkan kesengsaraan, baik di dunia hingga akhir nanti.

Maratani mring anak putu ing wuri, den padha prayitna, ajana kang kumawani, ing bapa tanapi biyang.
Hingga kelak ke anak cucu, oleh karena itu perhatikan sungguh-sungguh, jangan engkau kurang ajar kepada ayah atau ibu.

[sumber foto : kesolo.com]

2 Comments

Filed under Budaya, Musik, Renungan, tembang jawa