Hari Batik Nusantara

imagebam.com
Sekilas tentang Batik Nusantara.
Batik berasal dari bahasa Jawa yang terdiri dua kata yaitu “amba” berarti menulis dan kata “titik”.
Pada abad XVII oleh nenek moyang bangsa Indonesia, batik ditulis diatas daun lontar dengan corak binatang dan tanaman. Kemudian seiring perkembangan waktu corak batik beralih dan berubah menjadi corak bermotif abstrak.
Macamnya motof batik parang adalah Parang Rusak, Rusak Barong, Klitik, Kusumo, Tuding, Curigo, Pamor dan Centung.
Salah satu motif dan corak yang paling tua sudah ada sejak zaman keraton Mataram Kartasura (Solo) yang diciptkan oleh pendiri keraton Mataram adalah Batik Parang [asal kata Pereng atau tebeing/lereng]. Susunan batik motif parang biasanya berbentuk huruf S yang saling terkait satu sama lainnya.
Secara filosofis, batik motif Parang mempunyai kandungan makna yang tinggi, seperti pada :
-Bahasa simbol yang terkandung di dalamnya merupakan sebuah pesan bahwa sebagai manusia hendaknya tidak pernah menyerah dalam menjalani kehidupan, sebagaimana ombak samodera yang pernah lelah untuk selalu bergerak.
-Saling bersambungan, menggambarkan suatu jalinan hidup yang tak pernah putus, selalu konsisten dalam upaya untuk memperbaiki diri, memperjuangkan kesejahteraan maupun dalam menjaga hubungan antara manusia dengan alam, manusia dengan manusia dan manusia dengan Tuhannya.
-Garis diagonal, gambaran bahwa manusia memiliki cita-cita yang luhur, kokoh dalam pendirian, seta setia kepada nilai-nilai kebenaran.

Selamat Hari Batik Nasional

8 Comments

Filed under Budaya, Renungan

8 Responses to Hari Batik Nusantara

  1. Ndak inggih ta, Pak?
    Sangertos kula “bathik” lo, Pak.

    BTW, “amba” kalih “rawa” kok dadosipun “Mbahrawa” nggih? 😀

    • sukoasih

      Leres Pak, seratan basa jawi mestinipun Bathik sanes Batik.
      Canthing mboten Canting…. lajeng pundi ingkang leres Solotigo menapa Salatiga hihihihihi…

      • Inggih jelas “Salatiga” ta, Pak 🙂

        Saèstu sakedhik, naminipun kitha ing Jawi Wétan, Jawi Tengah, lan DIY, ingkang dipunserat kanthi leres nggih, Pak.

        Satunggaling conto ingkang klintu, inggih punika Bojonegroro. Kamangka aslinipun Bojanagara.
        Rujukan: http://www.kompasiana.com/mawan.sidarta/inilah-jejak-prabu-anglingdarma-di-bojonegoro_54f36b66745513962b6c74f3

          • selamat sore Mas Wandi… 🙂
            cerita sedikit yaaa.., saya jadi ingat sewaktu saya masih “aktif” di Tangerang dulu. Karena termasuk dalam cakupan daerah operasional tempat saya “glidig”, maka saya sering mengunjungi salah satu kecamatan di Kabupaten Serang yg bernama Bojonegara (yg konon diambil dari dua kata: “bojone” dan “negara” – istrinya negara).
            Konon penamaan itu sedikit terkait dengan asal muasal adanya “aliran” Pencak Silat Bandrong yg sangat terkenal di Banten. (Bandrong adalah jenis ikan yg gesit dan ganas, lain lho… dengan Bandeng yg sering kita santap sebagai teman makan nasi 😀 :D)

          • Puntepangaken, Pak Wijonohadi.

            Yang saya sulit mengerti:
            1. Bagaimana bisa di daerah Serang, yang notabene setahu saya termasuk wilayah Sunda, mengenal kata “bojoné” yang merupakan kosakata bahasa Jawa dengan arti “istri/suami”?
            2. Bagaimana bisa negara memiliki istri? 😀

            Kalau menurut dugaan saya yang termasuk awam ini, mungkin nama daerah tersebut diadopsi atau memiliki maksud yang sama dengan Bojonegoro Jawa Timur. Namun, karena sebagian disesuaikan dengan kebiasaan di Sunda, “negoro” menjadi “negara”. Padahal, di bahasa Sunda sendiri, pada asalnya juga adalah “nagara”, sama dengan bahasa Jawa.
            Bacaan: https://su.wikipedia.org/wiki/Nagara

            Kalau kita perhatikan, sebenarnya ada banyak nama tempat yang bermakna persis sama di kedua daerah (Jawa dan Sunda) dengan versinya masing-masing.
            Dua contoh: Purwokerto dan Purwakarta. Purwodadi dan Purwadadi.

  2. Matur nuwun Pak Ahmad, dipun tepangaken ugi 🙂

    Nyuwun pangapunten, kalau secara “gamblang-nya” saya juga awam, karena kebetulan saya berada di sana sebagai “pendatang”, namun demikian dalam percakapan sehari-hari dengan warga “asli” sering saya jumpai penuturan bahasa jawa dengan dialek “khusus” yg sebelumnya belum pernah saya temui 😉
    Untuk lebih jelasnya, silakan Pak Ahmad membuka laman wikipedia ini: https://id.wikipedia.org/wiki/Dialek_Banten

    Maturnuwun

    • Inggih, Pak Wijonohadi (y) 🙂
      Kula nembé kèmutan bilih ing Jabar ugi wonten basa Jawi dhialèk Banten.
      Namung, kula tetep nyepengi “Bojanagara” 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.