Hari Batik [warisan leluhur] Nusantara

SELAMAT HARI BATIK INDONESIA

Hari ini tanggal 2 Oktober merupakan Hari Batik Nasional.
UNESCO dengan keputusan Badan PBB tertanggal 2 Oktober 2009, secara resmi mengakui Batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Dunia [Daftar Represantatif Budaya Tak Benda Warisan Budaya].
Sebagai warisan leluhur, marilah kita tumbuh kembangkan kecintaan masyarakat terhadap kebudayaan Indonesia ini.
Sudahkan Anda menggunakan Batik

Sumber gambar : solobatik.athost.net

8 Comments

Filed under Budaya

8 Responses to Hari Batik [warisan leluhur] Nusantara

  1. rusli zachri

    Gus Mus: Pakai Batik adalah Sunnah Nabi
    By admin2 – 2 Oktober 2013

    Mosleminfo, Bandung–Saya pernah menghadiri pengajian Wakil Rais Aam PBNU KH A. Mustofa Bisri di pengajian rutin komunitas Mata Air, di Jl Mangunsarkoro, Mentang, Jakarta, Rabu 26 Oktober 2011. Pengajian yang berlangsung pukul 19.30 ini dihadiri sekitar 40 orang peserta.

    Dalam pengajian itu, kiai yang akrab disapa Gus Mus itu memaparkan, dewasa ini, umat Indonesia cenderung mengenakan pakaian gaya Arab; berjubah putih, berserban, dan memelihara jenggot. Mereka menyangka, kata dia, yang demikian itu merupakan salah satuittiba’ (mengikuti jejak) Nabi Muhammad.
    “Mereka kira, pakaian yang mereka pakai itu pakaian Kanjeng Nabi. Padahal, jubah, serban, sekalian jenggotnya, itu bukan pakaian Kanjeng Nabi. Abu Jahal juga begitu, karena itu pakaian nasional (Arab),” ungkap kiai asal Rembang, Jawa Tengah ini.

    Kiai kita ini menegaskan bahwa Kanjeng Nabi sangat menghormati tradisi tempat tinggalnya. Buktinya ia memakai pakaian Arab. Nabi tidak membikin pakaian sendiri untuk menunjukkan bahwa dia Rasulullah.

    “Seandainya, ini seandainya, kalau Rasulullah itu lahir di Texas, mungkin pake jeans,” ujar kiai yang pelukis dan penyair ini, disambut tawa hadirin, “Makanya Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid), saya, make pakaian sini (Jawa); pake batik,” ujarnya sambil menunjuk baju yang dikenakannya: batik coklat motif bunga berbentuk limas berwarna hitam.

    “Ini, ittiba’ Kangjeng Nabi. Ya begini ini, bukan pake serban, berjenggot. Itu ittiba’ Abu Jahal juga bisa. Tergantung mukanya,” tegasnya.

    Gus Mus menegaskan, jadi, perbedaan antara Abu Jahal, Abu Lahab dengan Kanjeng Nabi adalah air mukanya. Kanjeng Nabi itu wajahnya tersenyum, Abu Jahal wajahnya sangar. Kalau ingin iitiba’Kanjeng Nabi, pake serban pake jubah, wajah harus tersenyum.

    Gus Mus lalu mengisahkan, pada zaman Nabi, kalau ada sahabatnya yang sumpek, mempunyai beban, ketemu Kanjeng Nabi, melihat wajahnya, hilang sumpeknya. “Sekarang ini, nggak. Pakaiannya aja yang sama. Kita nggak sumpek, nggak apa, lihat wajahnya malah sumpek,” pungkasnya.

    UNESCO mengakui batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Tanggal 2 Oktober ditetapkan sebagai Peringatan Hari Batik Nasional melalui Penerbitan Kepres No 33, 17 November 2009. Selamat Hari Batik. (Abdullah Alawi)

    http://www.mosleminfo.com

    • Setuju dengan pernyataan Gus Mus, berpakaian batik adalah sunnah Nabi, lalu bagaimana dengan yang berjubah, bersorban dan berjenggot???
      Akankah.. seandainya Rasulullah SAW lahir di Jepang, bisa juga berpakaian Kimono.

      Layakkah sebuah budaya khususnya yang menyangkut kebiasaan berpakaian yang dibangun di sebuah daerah harus tercabik-cabik terhalang oleh dalil taqlid. Tidakkah berlebihan, jika sebagian yang berpihak pada budaya Arab merasa lebih muslim dari sebagian yang tidak berpihak kesana?. Bukankah Islam memberi ruang dan kebebasan dalam mengembangkan budaya yang tidak bertentangan dengan aqidah.
      Jika dahulu Rasulullah SAW berpakaian jubah, gamis, bersorban serta berjenggot, itu karena Rasulullah SAW memiliki sens yang tinggi pada budaya Arab.
      Islam yang tumbuh di bumi nusantara ini tidak mesti sama persis tampilan Islam beratus-ratus tahun yang silam di jazirah Arab. Seandainya saja konon katanya Rasulullah SAW berpakaian jubah, sorban, dan berjenggot panjang, akan tetapi tampilan Islam disini tidak memaksa mesti sama seperti itu. Sebagai orang melayu maka tampilan budaya dan etika moral itulah yang tumbuh dan tingkat peradaban manusia pun akan turut berubah dan berkembang secara dinamis. …” Itu adalah umat yang lalu baginya apa yang mereka telah usahakan, dan bagimu apa yang kamu usahakan, dan kamu tidak akan di minta pertanggunganjawaban apa yang telah mereka kerjakan”

      Hati-hati dalam menafsirkan sebuah pesan atau ayat dari Allah SWT. Hendaknya kita utamakan membaca serta menghayati apa yang ada di alam semesta dan mengenal di dalam diri manusia yang selanjutnya dengan melaksanakan dalam perilaku. Jangan memahami hanya kulitnya saja [kitab kering], pahamilah kandungan didalamnya [kitab basah]

      Beragama jelas membutuhkan kebijaksanaan. Kebijaksanaan akan menerangi pemahaman-pemahaman konseptual yang selama ini telah kita miliki dan kita susun sebagai pandangan hidup.
      Sejak taman kanak-kanak, yang kita ketahui adalah Tuhan telah menurunkan kitab-kitab-Nya pada para rasul. Pemahaman ala anak TK ini pun masih dipermiskin lagi dengan memaknai kitab-kitab-Nya sebagai barang/benda yang berbentuk buku yang diturunkan kepada para nabi yang hidup di timur tengah. Ini jelas sebuah pemiskinan makna kitab yang sesungguhnya yang tidak pantas dilakukan oleh orang-orang yang beriman dan beramal sholeh. Iman terhadap kitab-kitab-Nya jelas sebuah keharusan.

      Jadi kita tidak boleh hanya mengimani kertas-kertas dan mensucikan teks-teks yang dibuat di pabrik-pabrik kertas. Pemberhalaan teks yang merupakan “kitab kering” tidak boleh dilakukan oleh mereka yang mengaku orang beriman. Ini sama saja dengan kita menyembah patung, uang, jabatan, kekuasaan.
      Marilah kita mengkaji apa hakikat “kitab basah” itu sesuai yang tertera di dalam Al Quran, surah al-Ankabut 49: “Sebenarnya, Alquran adalah AYAT-AYAT YANG NYATA DI DALAM DADA orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang dzalim.” Dari ayat ini, orang yang beriman diharuskan ber-Iqra tentang kitab di dada. Kitab ini bukan hanya teks yang semata-mata dihafal saja namun dipahami maknanya dan diimplementasikan dalam sikap hidup dan bertindak.
      Merunut ayat di atas hakikat Al Quran hanya bisa dibaca oleh orang-orang yang diberi ilmu oleh-Nya. Diberi ilmu tidak sama dengan orang yang berilmu. Bila berilmu didapat dari proses belajar, maka diberi ilmu didapat dari proses pasrah total, sumarah kemudian DIA memberi kita hidayah berupa ILMU.

  2. I was recommended this blog by my cousin. I am not sure whether this
    post is written by him as nobody else know such detailed
    about my trouble. You’re amazing! Thanks!

  3. wonderful issues altogether, you just won a new reader.

    What may you suggest about your publish that you made a few
    days in the past? Any positive?

  4. Genuinely when someone doesn’t know after that its up to other people that they will assist, so here it happens.

  5. Just want to say your article is as surprising. The clarity in your publish is just nice and i could assume you’re
    knowledgeable in this subject. Well along with your
    permission let me to clutch your RSS feed to keep updated with forthcoming post.
    Thanks one million and please keep up the gratifying work.

  6. Hey there! This post couldn’t be written any better! Reading through this post reminds me of my good old room
    mate! He always kept talking about this. I will forward this article to him.
    Fairly certain he will have a good read. Thanks for sharing!

    Check out my blog post; free flash player javascript download

Leave a Reply to fear of flying lyrics Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.