Memahami makna bulan Ruwah

Salah satu tradisi dan budaya masyarakat Jawa yang dilakukan sebelum bulan Puasa adalah Ruwahan.
Kata “ruwah” konon berasal dari kata “arwah” atau roh para leluhur dan nenek moyang. Dari kata “arwah” inilah, bulan tersebut diasosiasikan atau diindentikkan sebagai bulan untuk mengenang para leluhur. Ruwah atau Nyadran merupakan bulan urutan ke delapan, dan berbarengan dengan bulan Sya’ban tahun Hijriyah. Ruwah atau Nyadran ini biasanya warga berbondong-bondong ke makam leluhur untuk memberikan doa atau umumnya disebut dengan “Nyadran”. Para peziarah biasanya meneruskan besik atau membersihkan makam.

Mengadakan tahlil bersama di halaman makam, dengan membawa makanan maupun hasil bumi untuk dibagikan atau dimakan bersama-sama. Hal ini bisa dimaknai semacam bulu bekti setelah semua di doakan dan dikhususkan untuk disajikan pada leluhur, setelah itu dinikmati bersama-sama hadai taulan.
Makna lain dai ruwahan disini, seperti persiapan untuk puasa Ramadhan yang dianggap sebagai perang jihad melawan hawa nafsu, dapat pula di maknai, bawa sebelum berangkat perang, maka harys membersihkan diri dengan memohon restu pada para pendahulunya.
Nyadran, yang berasal dari kata “sradha” merupakan tradisi yang di awali oleh Ratu Tribuana Tunggadewi, raja ke tiga Majapahit. Pada jaman itu Kanjeng Ratu ingin melakukan doa kepada sang ibunda Ratu Gayatri, dan roh nenek moyangnya. Untuk keperluan itu dipersiapkanlah aneka rupa sajian untuk di dermakan. Sepeninggal Ratu Tribuana, tradisi ini dilanjutkan juga oleh Prabu Hayam Wuruk.
Dimasa penyebaran agama Islam, oleh Wali Songo tradisi tersebut kemudian di adopsi menjadi upacara nyadran yang bertujuan untuk mendoakan orang tua di alam baka.
Dalam berbagai hadist, bahwa ketika seorang telah meninggal dunia dan berada di alam barzah, maka semua amal kebaikan di dunia menjadi terputus kecuali tiga hal, yaitu amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak yang sholeh. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban anak dan cucu untuk senantiasa mendoakan arwah leluhurnya yang telah meninggal.
Pada acara Nydran, berbagai bunga ditabur diatas makam orang-orang yang mereka cintai. Oleh karena itu nydran juga disebut “nyekar” (sekar = bunga). Keindahan dan keharuman bunga menjadi simbol untuk selalu mengenang semua yang indah dan baik dari mereka yang telah mendahului.
Tradisi ritus ruwahan ini ditutup dengan acara “padusan” biasanya dilakukan setelah Dhuhur dan Ashar untuk membersihkan diri lahir batin memasuki bulan Ramadhan.
Tradisi di bulan ruwah pada intinya melambangkan kesucian dan rasa sukacita memasuki ibadah puasa yang merupakan bentuk iman kesalehan individual dan kolektif.
Semoga berguna untuk bahan renungan.

2 Comments

Filed under Budaya, Renungan

2 Responses to Memahami makna bulan Ruwah

  1. Sugeng enjang Mas Wandi, mohon maaf kalau tidak salah bulan “Ruwah” bukan urutan ke tujuh tetapi urutan ke delapan (1. Sura, 2. Sapar, 3. Mulud, 4. Bakda Mulud, 5. Jumadilawal, 6. Jumadilakhir, 7. Rejeb, 8. Ruwah, 9. Pasa, 10. Sawal, 11. Dulkangidah, 12. Besar).

    Di kampung saya, penyelenggaraan “Nyadran” saat ini masih seperti waktu saya SR dulu. Seluruh warga berkumpul ke Masjid dekat makam untuk mengirim doa, dan kepada panitia setiap keluarga menyerahkan “tenong” yang isinya tumpeng nasi gurih, ingkung ayam jago, sambel goreng dan lauk pauk lainnya, kemudian disantap rame-2 setelah doa bersama 🙂

  2. Leres jenengan masWijono, Ruwah meniko wulan ke wolu ing tahun Jawi.
    Bokmenawi boten tebih bentenipun babagan Nyadran.
    Kalau di kampung/ndeso saya itu ada yang diselenggarakan tanggal 15 dan atau tanggal 20 bulan ruwah. Seluruh warga berkumpul di bangsal area makam untuk mengirim doa. Disana sudah terkumpul segala ubo rampe / tumpengan…. dst dst.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.