MasKumambang = Awal dimulainya Kehidupan

MasKumambang merupakan salah satu tembang macapat karya K.G.P.A.A Mangkunagara IV. MasKumambang berasal dari kata Mas yang artinya sesuatu yang terhormat, dimaknai sebagai emas yang terapung (emas kumambang), Kumambang merupakan kata jadian dari akar kata kambang (terapung).
MasKumambang atau awal dimulainya kehidupan, awal mulai perjalanan hidup manusia yang masih berupa embrio di dalam kandungan ibunya, masih belum diketahui jati dirinya (laki-laki atau perempuan).
Kehamilan berlangsung selama 280 hari atau 10 bulan atau 40 minggu, terhitung dari hari pertama haid terakhir. Oleh para pemuka agama meyakini bahwa ruh di tiupkan pada janin saat berusia 120 hari terhitung sejak bertemunya sel sperma dengan ovum.
Secara keseluruhan, tembang macapat sejatinya bercerita tentang perjalanan hidup manusia yang menggambarkan bagaimana seorang manusia hidup sejak lahir mulai belajar dari kanak-kanak, dewasa dan pada akhirnya meninggal. Masing-masing arti dari tembang macapat melambangkan watak atau karakter tersendiri, mulai dari watak sedih atau duka, nasehat, percintaan, kasih sayang hingga kebahagiaan.

Berikut salah satu tembang MasKumambang yang ngemut piwulang luhur.

Wong tan manut pitutur wong tuwa ugi, ha nemu duraka, ing donya tumekeng akhir, tan wurung kasurang-surang.
Menggambarkan tentang akibat seseorang yang tidak patuh terhadap orang tua. Seorang anak yang durhaka tentu akan mendapatkan kesengsaraan, baik di dunia hingga akhir nanti.

Maratani mring anak putu ing wuri, den padha prayitna, ajana kang kumawani, ing bapa tanapi biyang.
Hingga kelak ke anak cucu, oleh karena itu perhatikan sungguh-sungguh, jangan engkau kurang ajar kepada ayah atau ibu.

[sumber foto : kesolo.com]

2 Comments

Filed under Budaya, Musik, Renungan, tembang jawa

Irama Keroncong Asli – R.O.S Surakarta

imagebam.com

Irama Keroncong Asli bersama Radio Orkes Studio  (ROS) Surakarta, Orkes Keroncong Asli Studio RRI Jakarta, Orkes Keroncong Imam Supardi Bandung dan I.K.S.J Yogyakarta, dengan beberapa penyanyi seperti Masnun, Sri Imam. S, Mulyadi, Sunarti, Mujiwarti, Surip, Lena Sasangka, Jauhari.

  1. Pengantin Baru – Mulyadi
  2. Senja Sunyi – Sunarti
  3. Fajar Satria – Mujiwarti
  4. Miss Ribut – Sri Imam. S
  5. Pujaanku – Surip
  6. Panorama – Jauhari
  7. Mamak Biyung I – Lena Sasangka
  8. Tangis Sukamto – Masnun

1 Comment

Filed under Audio, Musik

Vokalis Yon Koeswoyo meninggal dunia

imagebam.com

Diawal tahun 2018, dunia musik kehilangan salah satu musisi terbaiknya yaitu Yon Koeswoyo [Koesyono] yang tergabung dalam band Koes Plus. Anak ke 6 dari Raden Koeswoyo, Yon Koeswoyo lahir di Tuban Jawa Timur, tanggal 27 September 1940. Meninggal hari Jumat 5 Januari 2018  dalam usia 77 tahun.
Koes Plus terbentuk tahun 1969, yang sebelumnya membentuk group musik bernama Koes Bersaudara [Album perdana 1962].
Album Koes Plus Vol. I yang dirilis tahun 1969 adalah Dheg Dheg Plas. (Awan Putih, Derita, Kelelawar, Tiba-Tiba Aku Menangis, Bergembira, Tjintamu Telah Berlalu, Dheg-Dheg Plas, Manis dan Sajang, Hilang Tak Berkesan, Kembali Ke Djakarta, Biar Berlalu dan Lusa Mungkin Kau Datang).

Selamat Jalan Koesyono, karyamu tetap menjadi kenangan yang abadi, dan semoga dapat menginspirasi generasi musisi sekarang.

2 Comments

Filed under Musik, Renungan

Wieteke van Dort – Jatihouten Kist

Wieteke van Dort (Tante Lien) yang aslinya bernama Louise Johanna Theodora Wieteke van Dort adalah seorang penyanyi kelahiran Surabaya 16 Mei 1943. Sejak usia 14 tahun Tante Lien menetap di negeri Belanda meniti karir sebagai penyanyi. Lagu yang cukup dikenal adalah Geef Mij Maar Nasi Goreng (Beri Saja Aku Nasi Goreng). Berikut diantara lagu dari Wieteke van Dort yang tidak melupakan Indonesia.

Leave a Comment

Filed under jadul 60-70, Musik

Kidung Natal di bulan Desember

Kidung Natal dari beberapa penyanyi lawas Koes Plus, Pattie Bersaudara, Endar Pradesa dan Vivi & Nita. Anda bisa menikmati kidungan seperti ini dalam versi keroncong, ataupun campursari dan bahkan dalam alunan gending gamelan jawa.

Selamat menikmati bagi yang merayakan …

Leave a Comment

Filed under Musik, Renungan

Lagu Natal dari seorang Muslim Raef

Raef Haggag atau lebih dikenal dengan nama Raef, yang lahir 8 Agustus 1982 adalah seorang penyanyi Amerika keturunan Mesir. Sebagai seorang Muslim yang menghargai perbedaan dan keberagaman.
Sebuah lagu The Muslim Christmas Song yang dilantunkan kiranya cocok di bulan Desember ini, bulan Maulid Nabi dan Milad Nabi Isa AS.

 
Search the sky for light and glory, La ilaha illa Allah (there is no god but Allah)
The moon will smile, don’t you worry, La ilaha illa Allah
Upon Muhammad, peace and blessings, La ilaha illa Allah
Join together Let us all sing! La ilaha illa Allah
Peace upon the son of Mary, La ilaha illa Allah
Jesus sent with love and mercy, La ilaha illa Allah
He filled the hearts that once were hollow, La ilaha illa Allah
The more you give, the more will follow! La ilaha illa Allah
Rabbee salli ‘ala Muhammad, (O Allah, send peace & blessings upon Muhammad) La ilaha illa Allah
Saadiqul wa’dil Mumajjad, (He is truthful in his promise and ennobled) La ilaha illa Allah
Wa ‘ala ‘Issa Ibni Maryam, (And [send peace & blessings] upon Jesus the son of Mary) La ilaha illa Allah
Allathi fil mahdi takallam, (He who spoke as a newborn baby) La ilaha illa Allah
‘Tis the season to be jolly, La ilaha illa Allah
Share a smile with everybody, La ilaha illa Allah
Even though our time is fleeting, La ilaha illa Allah
We look forward to our meeting! La ilaha illa Allah
La la la… La la la ilaha illa Allah!

Perbedaan, kebergaman itu adalah suatu keniscayaan yang hakiki.

2 Comments

Filed under Musik

Yudistira ksatria berdarah Putih

Yudistira, atau Puntadewa atau Prabu Darmakusuma adalah sebagai Raja Amarta. Saudara kandung Bima dan Arjuna dan saudara tiri Nakula dan Sadewa. (Kelimanya disebut Pandawa Lima).

Prabu Yudistira adalah raja Amarta dan ksatria berdarah putih. Ia tak pernah marah, tak pernah berbohong, dan sangat mengutamakan hidup yang damai. Ia sangat dicintai oleh kawulanya karena sabar, murah hati, dan penuh empati. Sangat memahami dan mau mengerti keadaan kawula dan pejabat negaranya. Ia juga memiliki pandangan yang terbuka. Jika Prabu bertitah dan bertindak, itu bukan kepentingan sang Raja dan keluarganya, tetapi demi kepentingan sesama manusia yang ada di muka bumi. Keluarga Pandawa menginginkan buwana seisinya ada dalam damai sejahtera penuh suka cita.
imagebam.com

Prabu Yudistira, walau dikatakan tidak pernah marah, suatu ketika marah juga yaitu ketika saudaranya dimasukkan ke neraka oleh Dewa. Ia marah dan menjelma menjadi raksasa bernama Dewa Amral.
Dalam sisi hidupnya ada hal yang sangat disesali Yuudistira, ketika ia harus berbohong kepada Guru Drona dalam perang Bharatayuda, atas nasihat Kresna. Itulah satu-satunya kebohongan yang pernah ia lakukan. Sejak itu derajat luhur bagai dewa diturunkan oleh dewata, dan seolah dicampakkan menjadi makhluk biasa Prabu Yudistira mempunyai pusaka kerajaan bernama Azimat Kalimasada, Payung Kyai Tunggulnaga, dan Tombak Kyai Karawelang. Continue reading

Leave a Comment

Filed under Budaya, Renungan

Orkes Rajuan Timur – Lokananta

imagebam.com
Lokananta sebagai perusahaan rekaman musik pertama di Indonesia yang berdiri tahun 1956. Ribuan master dalam kepingan Piringan Hitam dari berbagai musik Indonesia dari keroncong, pop, tradisional hingga jazz tersimpan di Lokananta. Genre tradisional seperti wayang orang, gending Jawa, lagu Bali, Sunda dan Batak hingga pidato kenegaraan oleh Presiden Soekarno merupakan koleksi yang ada di Lokananta. Untuk genre keroncong seperti Orkes Keroncong Surakarta, Djakarta, Semarang pun tersedia disana.

Sebagai contoh, berikut ini lagu keroncong dari Leby bersama Orkes Rajuan Timur.

Melestarrikan budaya bangsa warisan leluhur sebagai wujud jati diri dan watak bangsa Indonesia.

2 Comments

Filed under jadul 60-70, Musik

Sujono Karsono – Kasih Maafkanlah Beta

Sujono Karsono atau sering disebut Mas Yos adalah sebagai pendiri Irama Record, 1954, yang merupakan label rekaman pertama di Indonesia. Pensiunan Angkatan Udara [ dijuluki The Singing Commodore] ini sejak tahun 50-an menekuni dunia musik. PH pertama dirilis tahun 1961 dengan lagunya Semalam Di Malaya diiringi Orkes Studio Djakarta asuhan Sjaiful Bahri.
Dalam dunia perekaman, ia menggandeng dengan beberapa penyanyi sohor seperti Sam Saimun, Bing Slamet, Ratna, Heriati, Diah Iskandar.
Salah satu lagu dari Sujono Karsono adalah Kasih Maafkanlah Beta garapan M. Embut iringan musik Mus Mualim [Sandingkan dengan lagu Amore Scusami]

Maafkanlah beta
Bila kuteteskan air mata
Hati tersajat tinggalkan dikau
Pergi djauh

Sentuhan bibirku
Tanda selamat tinggal bagimu
S’bagai kenangan kasih dan sutji
Dan abadi

Malam itu kusangka
Permainan belaka
Seakan ombak samudra
Menghempas di pantai sukma

Dikau kubelai mesra
Djiwaku terpesona
Kiranja itu pertanda
Kudjatuh di lembah tjinta

Leave a Comment

Filed under jadul 60-70, Musik

Kembar Mayang = Gagar Mayang

imagebam.com

Kembar Mayang atau sering disebut Gagar Mayang atau Megar Mayang merupakan salah satu unsur yang terdapat dalam upacara tradisional Jawa, biasanya digunakan pada upacara perkawinan maupun kematian apabila orang yang meninggal itu masih lajang atau belum pernah menikah, uaitu perawan atau jejaka. Kembar Mayang juga dapat diartikan sepasang hiasan simbolik yang terbuat dari rangkaian Janur, debog (batang pohon pisang), buah dan kembang panca warna. Bentuknya menyerupai seperti pohon Kalpataru, pohon Kaswargan (jawa), seperti ukiran dalam Candi Prambanan.

Kembar Mayang selalu ditampilkan berpasangan yang maksudnya adalah di wujudkan dalam bentuk yang sama tetapi bukan dalam arti jantan dan betina. Dalam meletakkan Kembar Mayang selalu dalam jajaran kiri dan kanan, karena melambangkan bahwa segala hal yang suci, jujur dan baik diletakkan di sebelah kanan, sedangkan hal yang serba buruk, kebatilan dan kebohongan selalu diletakkan di sebelah kiri pasangan pengantin. Dengan demikian dalam kehidupan masyarakat Jawa, Kembar Mayang mempunyai makna filosofis yang mencerminkan hubungan manusia dengan lingkungan.

Kembar Mayang dan Prosesi Midodareni
Sepasang Kembar Mayang dibuat dan dipersiapkan sejak acara Midodareni, Biasanya sepasang Jejaka dan Gadis Perawan mengusung Kembar Mayang dengan disertai sepasang cengkir gading saat Upacara Panggih Pengantin. Dalam acara Midodareni ini terdapat rangkaian acara yang dinamakan Upacara Nebus Kemba Mayang.
Pada acara yang sakral pada rangkai ini, menceritakan bahwa pihak pemangku hajat minta pertolongan kepada tokoh Ki Saroyo Jati untuk mencarikan sepasang Kembar Mayang. Oleh Ki Saroyo Jati dengan blusukannya akhirnya didapatlah Kembar Mayang dari seseorang yang bernama Ki. Jati Waseso, seperti dialog berikut ini :

UPACARA NGUPADI TUMURUNUNG WAHYU JODHO
(NEBUS KEMBAR MAYANG)
Adegan I : Ingkang Hamengku gati hanimbali Sang Saraya Jati, lajeng sami pangandikan, binarung Ktw. Sekartejo Sl.MySaraya Jati :
Nuwun mangke ta Bapa ……………………. (ingkang mengku gati) handadosaken kagyating manah kulo seneng tampi dhawuh timbalan panjenengan anggenipun sakalangkung wanter. Wonten paridamel punapa dene hamiji sowan kula sumangga keparenga paring pangandika dhumateng kawula.Hamengku gati :
Adhimas Saraya Jati, ing dalu kalenggahan punika kula katangisan anak kula estri pun Rara …………………….. ingkang ing benjing-enjing siyang/dalu badhe nambu silaning akrami, mugi antuka tumuruning Wahyu Jodho. Ingkang puniko, keparenga kawula hangresaya dhumateng panjenengan mugi kersoa angupadi tumuruning Wahyu Jodho ingkang awujud Sekar Mancawarna ugi sinebat Kembar Mayang, kinarya jangkeping panggihing calon pinangantyan kekalih. Dene menawi sampun pikantuk mugi lajeng kersoa hamboyong kaasta tumuju ing wisma pawiwahan.

Saraya Jati :
Nuwun inggih sendika ngestokaken dhawuh. Wonten ing pundi papan dunungipun Sekar Mancawarna utawi Kembar Mayang punika.

Hamengku Gati :
Miturut wasita ingkang kula tampi, papan dunungipun Sekar Manawarna punika wonten ing padhepokan …………………., kabawah wewengkon ……………………..

Saraya Jati :
Nuwun inggih, rehning sampun cetha lan trawaca dhawuh timbalan panjenengan, keparenga kawula nyuwun pamit madal pasilan bidhal dinten punika daya-daya lebda ing karya.

Hamengku Gati :
nDerekaken raharjaning lampah, mugi rahayu boten wonten pringga bayaning
marga.

Keterangan : Bidhalipun Sang Saraya Jati saking pawiwahan, binarung ungeling
Ketawang Tumadhah, laras pelog pathet nem.

Adegan II : Ing padepokan ………………., Ki Jati Wasesa anengga Kembar Mayang, sinambi maos Sekar Macapat Dandhanggula.

1.Kaki hamung nyai hamung sami
Kang sumulih nebus Kembar Mayang
Yekti minangka pepasrahan
Wiwit ing dinanipun
Kang wus dadi ndara sayekti
Kiwa tengen dinata
Kanan kirinipun
Temanten deniro lenggah
Amimbuhi ngenguwung cahya munari
Temanten sekalian

2.Kembar Mayang werdine wus muni
Kembar pada mayang iku kembang
Yekti dadi kudangane
Supaya atut runtut
Wiwit daup ngantos ing benjing
Rukun amanggih mulya
Ngantos darbe turun
Kakung putrid mung sumangga
Mrih sembada kahangkao naming kalih
Ambangun kulawarga

3.Pambanguning kulawarga yekti
Adoh angger iku perlokno
Pranyata gede gunane
Sandang pangan kecukup
Kawruh bakal mumpuni ngudi
Manggon ora suksukan
Kasarasan tuhu
Rama lan Ibu kang bakal
Gula wentah putra putrine sayekti
Hayu-hayuning bala

Sasampunipun suwuk katungka dhatengipun Sang Saraya Jati, lajeng sami
pangandikan

Saraya Jati :
Kawula nuwun Kyai, keparenga kula badhe sowan
Jati Wasesa :
Mangga ……….. mangga kisanak, lajeng pinarak mlebet kemawon, mangga ta keparenga pinarak ing palenggahan ingkan sampun sumadya.

Saraya Jati :
Matur nuwun sanget Kyai, sak derengipun nyuwun pangapunten, dene sowan kula sakadang boten atur cecela langkung rumiyin

Wasesa Jati :
Boten dados punapa kisanak, semanten ugi kula inggih nyuwun pangapunten, mbok menawi anggen kula nampi karawuhan panjenengan sakadang kirang subasita, jalaran inggih naming kados mekaten kawontenanipun. Nuwun mangke ta kisanak, keparenga kula hanila-krami, wingking saking pundi saha sinten asma panjenengan
keraya-raya rawuh ing padhepokan ngriki kisanak.

Saraya Jati :
Nuwun inggih Kyai, keparenga kula badhe nepangaken, kula sakadang wingking saking …………………… (nyebtaken panggenanipun ingkang mengku gati), name kula pun Saraya Jati. Dene wigatosipun sowan kula sakadang punika pinangka dados duta saraya saking panjenenganipun Bapa/Ibu …………………………….. (ingkang mengku gati), saperlu hangupadi tumuruning Wahyu Jodho ingkang sampun cinandhi wonten ing Kembar Mayang, pinangka kangge sarat sarana anggenipun badhe kagungan kersa ngemah-emahaken putra putrinipun sarta kangge hanjangkepi ing upacara panggihing sri temanten. Punapa pancen ing ngriki dunungipun Kembar Mayang kala wau Kyai.

Jati Wasesa :
Nuwun inggih, saderengipun kula pratela dhumateng panjenengan ingkang rumiyin kula ugi nepangaken, bilih ingkang kasdu hamestani kula pun Ki Jati Wasesa. Dene padhepokan kula mriki winastan ………………… Pancen leren, inggih ing padhepokan ………………….. ngriki punika cumdhokipun Sekar Mancawarna ingkang
sinebat Kembar Mayang. Kayu Klepu Dewandaru, Cengkir Gadhing Kedhitipitu, punapadene Sadak Lawe.

Saraya Jati :
Manggih keleresan Kyai, inggih puniko ingkang dipun kersakaken dening panjenenganipun Bapa ……………….. (ingkang mengku gati). Ingkang punika mugi wontena keparenging penggalih tumunten Kembar Mayang kaparingna dumateng kula. Dene menawi pengaji pinten kerta ajinipun, menawi mawi leliru punapa lelirunipun,
waton kula saged hamboyong Kembar Mayang punika Kyai.

Jati Wasesa :
Miturut wawangsoning jagad, boten saged dipun tumbas kanthi punapa kemawon, naming sok sintena ingkang saged anegesi naminipun Kembar Mayang kanthi jangkep saha trep, inggih punika ingkang saged hamboyong wujudipun Kembar Mayang punika.

Saraya Jati :
We lha dalah, lha kok abot sangganipun Kyai, gandeng kula sampun sumanggem dados duta ngrampungi, sanadyan kados pundi kemawon badhe kula leksanani. Nyuwun pangestu Kyai Kembar Mayang, Klepu Dewandharu, Cengkir Gadhing Kendhitpitu, Sadak Lawe. Kembar Mayang tembung Kembar punika tegesipun padha. Tembung Mayang punika tegesipun Nur utawi Cahya, wonten ingkang mestani Kembang Jambe. Kembar Mayang punika mujudaken blegering kakung lan putrid. Kakung lan putri punika satemenipun sami, dene ingkang benten wadhahipun. Dene Nur utawi Cahya kalawau lenggahipun wonten ing rasa jati, ingkang dipun westani Urip utawi gesangipun. Tiyang jejodhohan punika menawi kepingin langgeng kekalihipun kedah saged manunggalaken rasanipun. Inggih manungaling rasa jati punika ingkang saged hambabar katentreman sarta saged hanggelar pakarti luhur. Inggih punika ingkang winastan garwa utawi sigaraning nyawa winastan kembar rasane. Kayu Klepu, Dewandharu ; Kayu-kayun, klepu-klepeng. Dewa titah ingkang luhur. Daru darajating agesang, dados loro-lorone ngatunggal sampun sagolong gayut darajating agesang. Cengkir Gadhing Kendhipitu ; Cengkir kencenging piker, gadhing gadhang, kendhi pitu, pangiket ingkang kiat sanget. Dados ringkesipun loro-lorone atunggal samya
angiket raos katresnan. Sadak Lawe; Biyen sanak saiki dadi jodhone Kyai, gaduk kula naming semanten, dene leres lan lepatipun kawula sumanggaken

Jati Wasesa :
Sang Saraya Jati, sarikma pinara sasra, kula boten nyana bilih panjenengan ingkang saged anegesi kanti trep lan jangkep, mbok menawi inggih sampun dados kodrating jagad, bilih panjenengan ingkang kawawa hamboyong Kambar Mayang punika. Namung kajawi punika wonten sarat sarananipun, Sepisan, pamboyonging Kembar Mayang kaemban jejaka kalih, Kaping kalih, Cengkir gadhing sak pirantosipun kaasta Kenya Dhomas. Kaping tiga, lampahing Kembar Mayang kabiwadha gendhing Ilir-ilir Sumilir. Wondene kang wekasan, murih boten alum pradapa Sekar Mancawarna, supados dipun saranani mawi rengeng-rengeng kekidungan boten ketang satunggal
kalih pada.

Saraya Jati :
Nuwun inggih Kyai, badhe kula estokaken sadaya sarat sarananipun, wondene rengeng-rengeng kekidungan sanadyan hamung sapala, sumangga keparenga midhangetaken.

Pangkur :
Yektine kang winurseta,
Kembang Kanthil lambanging ati suci,
Suci murni tresnanipun,
tansah manunggal karsa,
Sri temanten nggennya mangun brayatipun,
tulusa widodo mulya,
linambaran tresna jati.

Kinanthi :
Dhuh Gusti Ywang Maha Agung, mugi kersa hamberkahi, mring temanten kekalihnya, nggennya mangun brayat sami, bagya mulya kang sinedya, rahayu ingkang pinanggih.
Kyai, kalih pada punika kewala atur kekidungan kula, mangka jangkeping sarana pamboyonging Sekar Mancawarna. Kiranging sadayanipun, ingkang boten dados renaming penggalih, mugi diagung pangaksamanipun.

Jati Wasasa :
Sang Saraya Jati, saking keprananing manah kula, wekdal punika ugi Kembar Mayang kula pasarahaken, sumangga tumunten kula aturi hanampi.

Saraya Jati :
Kyai, rehning sampun cekap samudayanipun, keparenga kawula nyuwun pamit madal pasilan, lan nyuwun pangestu mugi tansah manggiha bagya mulya salampah
kula.

Jati Wasesa :
Sang Saraya Jati, sapengker panjenengan kula pranggal puja sesanti jaya-jaya wijayanti, sirna memala pinayungan sahing Gusti, hayu-hayu rahayu ingkang sami pinanggih. Gendhing Ilir-ilir Sumilir, Sang Saraya Jati sakadang hamboyong Kembar Mayang Adegan III : Ingkang Hamengku Gati hanampi rawuhipun Sang Saraya Jati sakadang angasta Kembar Mayang, lajeng sami pangandikan.

Saraya Jati :
Kepareng matur dhumateng Bapa ………………………. (ingkang mengku gati), inggih awit saking berkah saha pangestu panjenengan, kula sampun kelampahan hamboyong wujudipun Kembar Mayang, ingkang punika sumangga kula aturi nampi, mugi sageda kinarya sarana dhaupipun ingkang putra.

Hamengku Jati :
Adhimas Saraya Jati, kula tampi kanthi bingahing manah, lan awit saking sih pitulungan panjenengan, kula sakulawarga naming saged hangaturaken gunging panuwun tanpa upami. Nuwun, matur nuwun. Penutup : Gendhing Ayak-ayakan, laras slendro pathet manyura, para paraga tangkep asta, lajeng bibaran.

Gending-gending untuk mengisi acara upacara nebus kembar mayang dapat di lihat kesini.

Itulah sekilas tentang Kembar Mayang untuk perhelatan hajat pernikahan adat Jawa.

2 Comments

Filed under Budaya