Rerep Dhandhanggula [Jualan Kembar Mayang]

Tatkala menghadiri undangan resepsi pernikahan dengan adat Jawa, jumpa seorang rekan lawas yang ngobrol kesana kemari sembari menikmati hidangan dengan iringian lantunan gendhing-gendhing jawa. Si rekan itu menanyakan  “kidungan apa yang cocok untuk mengiringi upacara nebus kembar mayang itu?“. Lalu saya jawab, kidungan yang dimaksud itu adalah “Rerepan Dhandhanggula” atau Kidung Dharma Wedha karya Wali Sunan Kalijaga, yang cakepan dan bait-baitnya seperti berikut :

Ana kayu apurwa sawiji, wit bawana epang keblat papat, agodong mega rumembe, apradapa kekuwung, kembang lintang salaga langit, sari andaru kilat, woh surya lan tengsu, asirat bun lawan udan, apupucuk akasa bungkah pratiwi, oyode bayu bajra”
(Ada batang kayu bermula dari satu, pohon dunia bercabang empat penjuru, berdaun mega yang tergerai subur, berpucuk pelangi, berbunga bintang bertaburan di langit, bersemi kayu kilat, berbuah matahari dan bulan, percikan embun dan hujan, berpucuk langit beralaskan bumi, akarnya angin dan halilintar).
Kembar mayang iku wus ngarani, kembar pada mayang iku sekar, anenggih sekaring jambe, rinakit adi luhung, dadya pepenginan ireki, manten estri lan priya, amrih guyub rukun, pinarcaya ing Hyang Suksma, pinaringan momongan jalu lan estri, satemah bagya mulya.

Itulah Kidung Dharma Wedha karya pujangga Sunan Kalijaga yang hingga kini tidak mengenal lekang waktu.
Hanya dengan kemampuan super intelegensi serta matahati yang tajam yang dimiliki Suanan Kalijaga, sehingga mampun merangkai kearifan lokal untuk kemudian dirajut dan dianyam dengan ilmu Tauhid ajaran Rasulullah.
Semoga berkenan rekan lawasku.

Leave a Comment

Filed under Musik, Renungan, tembang jawa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.