Serat Wulangreh – Girisa

Serat Wulangreh karya besar Sri Susuhunan Paku Buwana IV sebagai karya adiluhung yang tidak pernah lapuk ditelan usia, sarat sejumlah nilai simbolik, dan dikenal sepanjang masa bagi peradaban umat manusia. Kendatipun zaman sudah modern dimana para generasi muda sebagai penerus kebudayaan bangsa banyak yang emoh dan enggan untuk mempelajarinya. Pada umumnya mereka lebih menyukai dengan kebudayaan modern yang mereka sebut zaman “globalisasi” zaman yang serba “gaul”. Karya sastra Serat Wulangreh dianggap sebagai ketinggalan zaman (of out date), kuno, tidak gaul dan jadul, mereke senang dan bangga apabila menyanyikan lagu-lagu modern seperti dari Peterpen, Dewa, Slank dlsb.
Dalam Serat Wulangreh ini (tembang Girisa) misalnya menyerukan umat manusia agar senantiasa waspada dan eling. Karena sikap waspada dan eling akan mencegah tingkah laku dan ucapan-ucapan yang tercela. Disamping itu Serat Wulangreh ini juga mengajarkan mengenai etika yang luhur yang mampu menghaluskan rohaniah, mempertajam visi, misi dan ruang imajinasi, membuat manusia santun jiwanya, berkepribadian mulia, dan luas jiwanya.
Manusia itu harus senantiasa memlihara watak “Reh”, bersabar hati dan “Ririh”, tidak tergesa-gesa dan berhati-hati. Perilaku yang menguntungkan diri sendiri dan merugikan orang lain harus dihindarkan, seperti berbohong, kikir, dan sewenang-wenang.

Salah satu Serat Wulangreh yaitu tembang Girisa, berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya arik (tenang), wedi (takut), giris (ngeri) atau mboten sarwo wegah, bermakna tidak serba enggan, sehingga merupakan watak selalu ingat dan eling.

“Anak putu den estokna, warah wuruke pun bapa, aja na ingkang sembrana, marang wuruke wong tuwa, ing lair batin den bisa, angganggo wuruking bapa, ing tyas den padha santosa, teguhana jroning nala”
(Anak cucuku, turutilah nasihat ayahandamu, dan jangan ada yang meremehkan nasihat orang tua, biasakan mendengar nasihat orang tua secara lahir batin, yakinlah dan teguhkan hatimu)
musik srepegan


aja adigang, adigung, adiguna
aja sira degsura, ngaku luwih pinter tinimbang sejene
aja rumangsa bener dhewe, jalaran ing donya iki ora ana sing bener dewe

Leave a Comment

Filed under Budaya, gendhing jawa, tembang jawa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.