Yudistira ksatria berdarah Putih

Yudistira, atau Puntadewa atau Prabu Darmakusuma adalah sebagai Raja Amarta. Saudara kandung Bima dan Arjuna dan saudara tiri Nakula dan Sadewa. (Kelimanya disebut Pandawa Lima).

Prabu Yudistira adalah raja Amarta dan ksatria berdarah putih. Ia tak pernah marah, tak pernah berbohong, dan sangat mengutamakan hidup yang damai. Ia sangat dicintai oleh kawulanya karena sabar, murah hati, dan penuh empati. Sangat memahami dan mau mengerti keadaan kawula dan pejabat negaranya. Ia juga memiliki pandangan yang terbuka. Jika Prabu bertitah dan bertindak, itu bukan kepentingan sang Raja dan keluarganya, tetapi demi kepentingan sesama manusia yang ada di muka bumi. Keluarga Pandawa menginginkan buwana seisinya ada dalam damai sejahtera penuh suka cita.
imagebam.com

Prabu Yudistira, walau dikatakan tidak pernah marah, suatu ketika marah juga yaitu ketika saudaranya dimasukkan ke neraka oleh Dewa. Ia marah dan menjelma menjadi raksasa bernama Dewa Amral.
Dalam sisi hidupnya ada hal yang sangat disesali Yuudistira, ketika ia harus berbohong kepada Guru Drona dalam perang Bharatayuda, atas nasihat Kresna. Itulah satu-satunya kebohongan yang pernah ia lakukan. Sejak itu derajat luhur bagai dewa diturunkan oleh dewata, dan seolah dicampakkan menjadi makhluk biasa Prabu Yudistira mempunyai pusaka kerajaan bernama Azimat Kalimasada, Payung Kyai Tunggulnaga, dan Tombak Kyai Karawelang.

Dalam perang Bharatayuda, Prabu Yudistira tampil sebagai senopati perang Pandawa dan berhasil menewaskan Prabu Salya, raja Negeri Mandaraka. Setelah perang berakhir, Prabu dinobatka menjadi raja Kerajaan Astina, bergelar Prabu Kalimataya atau Karimataya. Usai menobatkan Parikesit, putra Abimanyu, sebagai raja Astina, Prabu Yudistira memimpin perjalanan moksa para Pandawa menuju Nirwana.

Perjalanan naik ke Sorgaloka.
Awal permulaan zaman Kaliyuga dan wafatnya Kresna, Yudistira dan keempat adiknya Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa mengundurkan diri dari urusan duniawi. Kelima Pandawa itu meninggalkan tahta kerajan, harta, dan sifat keterkaitan untuk melakukan perjalanan terakhir mengelilingi Bharatawarsha lalu menuju puncak Himalaya. Disana dikaki gunung Himalaya, Yudistira menemukan seekor anjing yang menjadi pendamping perjalanan Pandawa yang setia. Saat menapaki dan mendaki puncak, satu persatu mulai dari Dropadi, Sadewa, Nakula, Arjuna dan Bima meninggal dunia. Masing-masing terseret oleh kesalahan dan dosa yang pernah mereka perbuat. Hanya Yudistira dan anjingnya yang berhasil mencapai puncak gunung, karena kesucian hatinya.
Datanglah Dewa Indra penguasa keluarga kahyangan menjemput Yudistira untuk diajak naik ke sorga dengan kereta kencananya. Namun Indra menolak anjing yang dibawa Yudistira dengan alasan bahwa hewan tersebut tidak suci, dan tidak layak masuk sorga. Yudistira menolak masuk sorga apabila harus berpisah dengan anjingnya. Indra merasa heran karena Yudistira tega meninggalkan Saudara-Saudarnya dan Drupadi tanpa mengadakan upacara pembakaran jenazah bagi mereka, namun lebih memilih untuk tidak mau meninggalkan seekor anjing. Yudistira menjawab bahwa bukan dirinya yang meninggalkan mereka, melainkan merekalah yang meninggalkan dirinya.
Kesetiaan Yudistira telah teruji. Anjingnya pun kembali berubah wujud aslinya yaitu Dewa Dharma. Bersama-sama mereka naik ke sorga menggunakan kereta Indra, namun ternyata ke empat saudaranya tidak ditemukan disana, yang ada justru Duryudono dan adik-adiknya yang selama hidup mengumbar angkara murka. Indra menjelaskan bahwa ke empat Pandawa dan para pahlawan lainnya sedang menjalani penyiksaan.
Yudistira menyatakan siap masuk neraka menemani mereka, namun ketika terlihat pemandangan neraka yang disertai suara menyayat hati dihiasi darah kental membuatnya ngeri. Saat tergoda untuk kabur dari neraka, Yudistira berhasil menguasahi diri. Terdengar suara saudara-saudarnya memanggil-manggil. Yudistira memutuskan untuk tinggal di neraka. Ia merasa lebih baik hidup tersiksa bersama saudara-saudaranya yang baik hati ketimbang bergembira-ria di sorga.
Tiba-tiba pemandangan berubah menjadi indah. Dewa Indra muncul dan berkata bahwa sekali lagi Yudistira lulus ujian. Dan sejak saat itu Pandawa Lima dan para pahlawan lainnya dinyatakan sebagai penghuni Sorgaloka, sementara para Kurawa akan menjalani siksaan yang kekal di neraka.

Leave a Comment

Filed under Budaya, Renungan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>