Tag Archives: sekaten

Sekaten dan Penyebaran Agama Islam

Penyebaran agama Islam di Tanah Jawa tidak luput dari peran aktif para Wali Sembialn (Walisongo). Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus dan Sunan Gunung Jati. Kesembilan Wali inilah yang memainkan peranan strategis dalam mendakwahkan Islam di Tanah Jawa, baik secara individual maupun secara kolektif. Salah seorang Walisongo yang secara cerdas dan brilian memanfaatkan unsur budaya lokal (Jawa) untuk memudahkan penyiaran agama Islam adalah Sunan Kalijaga. Sosok yang jenius, visioner, dan memiliki perspektif dan terobosan yang inovatif, progresif, dan kontruktif. Ia tidak melihat adanya jarak antara Islam dan budaya lokal. Justru elemen budaya lokal harus dipadukan dan dimanfaatkan untuk kepentingan tujuan dakwah agama Islam bisa diterima dengan mudah oleh masyarakat luas. Pola dan strategis dakwah Sunan Kalijaga ini juga mengombinasikan unsur budaya lokal dengan nilai-nilai kultural dalam gerakan dakwahnya sangat diutamakan. Salah satu media dakwahnya adalah gamelan. Kyai Sekati itulah nama gamelan yang digunakan sebagai media dakwah menyiarkan agama Islam kepada masyarakat luas.

Diantara gending-gending Sekatenan itu adalah :
– Gdh. Rangkung Pl.5   [“Ra’aakum” = Yang memeliharamu]
– Gdh. Rambu Pl.5   [“Robbunaa” = Allah Tuhanku]
– Gdh. Salatun Pl.6   [“Shalat” = Berdoa atau menyembah kpd Allah SWT]

Hingga sekarang masyarakat di Tanah Jawa mengenal “Sekaten” (Kiai Sekati) sebagai ritual perayaan tahunan di Demak, Solo dan Yogyakarta setiap bulan Maulud (kalender jawa). Konon “Sekaten” berasal dari kalimat “Syahadatain” (dua kalimat syahadat). Tradisi dan budaya Sekaten ini terus diawetkan dan dilestarikan di tengah-tengah arus dan gelombang gempuran modernisasi.

| Naskah ini teripirasi saat berkunjung di kota Solo yang sedang melaksanakan perayaan tahunan Sekaten |

Leave a Comment

Filed under Budaya, Renungan