Panyandra Pengantin adat Jawa

imagebam.com
Panyandra atau Pranata Cara (M.C), Pembawa Acara,Pambiwara, Pranata Adicara, Pranata Titi Laksana, Panata Adicara, Paniti Laksana atau juga disebut Pranata Laksitaning Adicara adalah seorang yang menata acara sebagai pedoman bagi jalannya sebuah acara. Sebagai bentuk strategi mempertahankan bahasa ibu, karena di dalam tradisi pernikahan jawa ada yang disebut sebagai panyandra temanten. Didalam itu terdapat penggunaan bahasa Jawa krama inggil , yang belakangan ini mulai mengalami tanda-tanda pengikisan. Padahal posisi bahasan jawa krama inggil ini adalah sebagai bahasa ibu yang seharusnya tetap eksis.
Pranata acara adat jawa tentu tentu memiliki karakteristik sendiri. Setiap pranata acara tentu harus dapat meramu kata-kata yang dilontarkannya sehingga memberi kesan indah. Pemilihan kata-kata dan kiasan yang dilakukan oleh seorang pranata acara mempu menumbuhkan kesan sakral, anggun, dan mampu menunjukkan citra budayanya.
Pernikahan adat jawa memiliki nilai filosofis yang tinggi pada setiap tahapan yang dilalui dalam upacara adat. Didalam upacara adat pernikahan masyarakat jawa, terdapat tuturan-tuturan yang mengirigi prosesi ritual. Tuturan tersebut dimaksudkan agar para tamu mengetahui serta mendapatkan gambaran mengenai suasana, situasi maupun makna dari tiap-tiap prosesi yang dilakukan.
Selain menggunakan bahsa jawa ragam krama alus, seorang pranata acara juga kerap menggunakan bahasa kawi. Bahasa ini dinilai memiliki nilai estetika yang tinggi seperti :
“Sri Pengantin putri hangagem busana ingkang sarwa retna, hangagem busananing Rajapitri, katon pating gelebyar pating pancurat lamun kasorot sunaring padam kuurung ingkang hangrenggani sasana adi, pan yayah kartika kasilih prenali”

Berikut ini pranata acara atau panyondro pengatin adat jawa dengan iringan gamelan jawa :

  1. Kebogiro   [Temu/Panggih]
  2. Monggang   [Kacar Kucur]
  3. Sriwidodo   [Sungkeman]
  4. Ibu Pertiwi   [Kirab I]
  5. Subokastowo   [Kirab II]
  6. Udan Basuki   [Wejangan/Ular-2]

# Rahayu Sagung Dumadi #

Leave a Comment

Filed under Budaya, gendhing jawa

Artis Legendaris Lilis Suryani [Gang Kelinci]

imagebam.com

Lilis Suryani penyanyi legendaris yang lahir di Jakarta, 22 Agustus 1948 ini begitu dikenal baik dari kalangan anak-anak sampai yang tua dengan lagunya “Gang Kelinci”. Di usia 15 tahun, Lilis datang kepada Titiek Pusoa untuk minta dibuatkan lagu. Namun kala itu Titiek Puspa tidak punya gagasan, karena hari sudah sore diantarlah Lilis Suryani pulang dengan naik becak. Begitu memasuki tempat tinggal Lilis yang berlokasi di gang kelinci. Titiek takjub dengan padatnya pemukiman dan keramaian anak-anak disitu. Lewat inspirasi itu, Titiek Puspa mencipta lagu Gang Kelinci.
Diusia yang masih muda dalam hal tarik suara, Lilis Suryani sudah menampakkan kebilehannya. Lagu tersohor karya sendiri adalah Tiga Malam, Di Kala Malam Tiba, Baju Loreng, Hesty.
Lagu-lagu dari Lilis Suryani sebagian isi liriknya diangkat dari kisah kehiidupannya sendiri dan bervariatif tentang tema cinta, jenaka, balada hingga patriotisme [Dayung Palinggam, Tandak Sambat, Cing Tulungan].

Jakarta
Kotaku
indah dan megah
Disitulah aku dilahirkan
Rumahku disalah satu gang
Namanya Gang Kelinci

Berikut sebagian lagu-lagu dari album Legendaris Lilis Suryani :

Leave a Comment

Filed under jadul 60-70, Musik

STSI – Kidung Natal [Dalu Suci]

image host

Gendingan Kidung Natal karya dan kreasi anak bangsa oleh mahasiwa dan mahasiswi seni Karawitan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI)  dengan garap ketawangan : Allah Rama Linuhurna, Ayem Wonten Ing Sang Kristus, Dalu Suci, Pucung Gesang Anyar, Sih Rahmating Gusti, Yesus Sang Pamase.

Leave a Comment

Filed under gendhing jawa, tembang jawa

SEHAT dengan olah NAPAS [1]

Napas adalah bagian terpenting dalam kehidupan manusia, dengan kata lain apabila napas seseorang berhenti maka berhenti pula segala kehidupan. [bahwa napas itu bagian terpenting dalam kehidupan mahkluk didunia ciptaan Tuhan Sang Pencipta]

Sejak penciptaan manusia, napas sudah disebut-sebut seperti dalam Kitab Suci : “Dan ingatlah ketika berfirman Tuhanmu kepada para malaikat, ‘Akan Kuciptakan manusia dari tanah liat yang kering, dari lumpur yang diberi bentuk. Maka apabila Kubentuk rupanya, dan Kutiupkan Rohku ke dalamnya, tunduklah kamu sujud KepadaNYA” (QS. Al Hijr 26 s/d 30). “Ketika itulah Tuhan Allah membentuk manusia dari debu tanah dan menghembuskan napas hidup ke dalam hidungnya, demikianlah manusia itu menjadi makhluk hidup”. (Bible).
Napas dalam bahasa ilmiahnya kurang lebih, merupakan proses penarikan unsur Oksigen yang dibutuhkan oleh tubuh manusia yang digunakan untuk proses pembakaran zat dalam tubuh sehingga menghasilkan tenaga dan zat arang yang dikeluarkan melalui rongga hidung sebagai bagian dari proses pernapasan itu sendiri.

Disebutkan bahwa : setiap irisan atau bagian-bagian yang diberikan oleh Sang Pencipta adalah pernapasan, yaitu 21.600 kali pernapasan yang boleh dihabiskan selama sehari semalam. Bila jumlah ini tidak habis terpakai, konsekuensinya ada sejumlah pernapasan yang tersimpan dan ini akan memperpanjang umur.
Jika diproyeksikan dalam menit , maka angka 20.600 pernapasan sehari menjadi 15 kali tiap menit, yang merupakan rata-rata pernapasan seorang dewasa sehat dan normal. Jadi pada setiap orang yang terbiasa menggunakan pernapasan dalam, tenang, teratur, dan terlatih akan dapat mengurangi frekuensi pernapasan per menitnya, sehingga dengan demikian jumlah simpanan pernapasan menjadi lebih banyak.

Manusia bernapas secara normal sebanyak 14 sampai sampai dengan 16 kali bagi pria dan 18 sampai dengan 20 kali bagi wanita pada setiap menitnya, dan akan berubah maupun berkembang sesuai kebutuhan, bergantung pada banyak dan sedikitnya tenaga atau energi yang dipergunakan.
Paru-paru berfungsi sebagai alat pernapasan untuk memenuhi kebutuhan oksigen bagi proses metabolism, pengolahan zat makanan/pembakaran zat makanan untuk menghasilkan energi, sedangkan karbon dioksida yang dihasilkan pada proses ini dengan segera dikeluarkan dari tubuh.
Secara medis bahwa tipe pernapasan yang demikian, kemampuan untuk oksigenisasi (menyerap O2 dan membuang CO2) dalam tubuhnya juga akan lebih besar. Hal ini akan meingkatkan kesehatannya, dengan demikian kemungkinan untuk hiidup lebih lama pun lebih terbuka.

Dalam latihan olah napas ini terdapat komponen yang akan dicapai yaitu persedian, yang melatih organ gerak tubuh seperti, saraf, otak dan sendi, sehingga berfungsi optimal. Dengan melatih pernapasan yang dalam, tenang, teratur, perlahan-lahan dan berkesinambungan maka kesehatan fisik dan jiwa pun bias dicapai.

Secara umum olah napas yang akan dilakukan ini  bermanfaat untuk membantu memelihara kesehatan fisik dan mental, menghilangkan stress, mempercepat pemulihan tubuh dan penyembuhan penyakit, dan :

  • membuat diri tenang, kualitas pikiran menjadi harmoni damai dan ceria;
  • peredaran darah menjadi lebih lancar;
  • meningkatkan intuisi dan kepekaan segala hal, napas menjadi lebih    panjang dan daya tubuh lebih tinggi
  • kejernihan pikiran dan disisi lain juga peningkatan naluri

“DALAM TUBUH YANG SEHAT TERDAPAT JIWA YANG SEHAT” ataukah “JIWA YANG SEHAT MEMBUAT TUBUH JUGA SEHAT’

Berikutnya bagaimana cara oleh napasnya? tunggu tulisan berikutnya ….

Leave a Comment

Filed under tak berkategori

Mengenang Maestro Gamelan Rahayu Supanggah

imagebam.com
Prof. Dr. Rahayu Supanggah, S.Kar yang lahir di Boyolali 29 Agustus 1949 adalah seorang maestro gamelan dan seniman handal Nusantara. Anak seniman dalang dari Boyolali ini telah meninggalkan kita bertepatan dengan hari Pahlawan 10 November 2020.
Sebagai tokoh seni karawitan dan etnomusikologi yang karya-karyanya diakui di kancah Nasional maupun Internasional. Andal dalam berorganiisasi dan dan selalu menjaga hubungan antar manusia.
Beliau menjadi salah satu yang ikut menginisiasi dan memperjuangkan gamelan sebagai warisan budaya tak bentuk dunia di UNESCO. Semasa hidupnya ia mengangkat derajat gamelan ke forum dunia, peraih penghargaan seni nasional dan internasional.
Tahun 1965 ikut menjalani misi kesenian kepresidenan ke China, Korea dan Jepang.
Tahun 2010 menerima penghargaan Bintang Budaya Parama Darma dari Presiden.
Mantan Rektor ISI Surakarta (1997-2001), Dr. Rahayu Supanggah telah banyak menelorkan karya-karyanya, diantara karya spektakulernya adalah “Gambuh’ tahun 1979.

“ATI SADU” salah satu kreasi dari seniman-seniwati ISI Surakarta sebagai persembahan kepada Prof. Dr. Rahayu Supanggah, S.Kar atas pengabdiannya di ISI (Buku Pisungsung Bunga Rampai)
“Ati sedu ati yogi rama weninging ludira welas asih kinasih, karya tangguh mrantasi satuhu sang dwija” (Hati yang sadu, yogi oh Bapak, darahmu bening mangukir cinta kasih, bahuku kuat manggul segala beban, oh guruku)

Leave a Comment

Filed under Budaya, Renungan

Tembang Jenis Seriosa

Seriosa dianggap sebagai jenis musik yang memiliki mutu artistik tinggi, sepaket dengan tangga nada yang tinggi dan sulit dijangkau oleh kebanyakan orang. Dibutuhkan vibrasi yang baik serta suara yang lebih tinggi.
Penyanyi seriosa harus mampu mengungkapkan lagu secara serius mengejawantahkan atau menafsirkan maksud dan tujuan dari tema lagu secara tepat. Mampu larut ke dalam lagu itu sendiri, bahkan harus mampun berbuat sebagai subjek dari lagunya.
Sayangnya saat ini, kesenian musik klasik seriosa seakan luput termakan zaman dan mulai ditinggalkan bahkan dilupakan.

Berikut beberapa tembang jenis seriosa oleh penyanyi yang pernah menjuarai Bintang Radio 1957 untuk menggugah kembali tentang lagu-lagu seriosa.

  • Bintang Sedjuta – Pranadjaja yang bersuara tenor
  • Dahaga – Pranadjaja
  • Kasih Diambang Pintu – Norma Sanger bersuara mezzo sopran
  • Malam Kenangan – Norma Sanger
  • Kisah Angin Malam – Andy Mulja
  • Kisah Mawar Dimalam Hari – Andy Mulja
  •  

     

    4 Comments

    Filed under Musik

    Beksan (Tari) Gambyong

    Tari beksan Gambyong merupakan salah satu jenis tari tradisional yang berasal dari daerah Surakarta Hadiningrat. Dari awal tari ini hanyalah sebuah tarian jalanan (teledek) atau tarian rakyat.
    Tari Gambyong diambil dari sebuah nama seorang penari kondang yang bernama Sri Gambyong. Sebagai penari ia mempunyai suara yang sangat merdu dan keluwesan dalam gerak menari.
    Oleh raja kasunanan Surakarta Paku Buwana IV, Sri Gambyong diminta untuk pentas menari dilingkungan keraton. Sejak saat itulah tarian Sri Gambyong dinamakan “Tari Gambyong”.
    Tari Gambyong pada penampilannya terbagi menjadi 3 bagian yaitu gerakan awal (maju beksan), gerakan utama (beksan), dan gerakan penutup (mundur beksan). Gerakan yang bertempo pelan dan lemah gemulai menggambarkan sebuah kelembutan dan keindahan seorang wanita. Pandangan mata penari sering meliat kearah jari tangan seiring dengan gerakan tangannya, pun gerakan kaki dan tangan bergerak secara harmonis mengikuti irama kendang dan alunan musik gamelan sebagai pengiring yang biasanya dengan gending ladrang Pangkur.
    Silahkan simak dan ikuti Tari Gambyong dengan seksama gerak dan kiprahnya yang lembut dan indah. 

    Leave a Comment

    Filed under Budaya, seni tari

    Gending cipta karya Ki. Tjokrowasito

    Ki. Tjokrowasito empu karawitan telah banyak menelorkan karya-karyagending seperti Kae Lho, Gembiroloka, JaJaJa. Sebelum wafat tepatnya tanggal  30 Agustus 2007 atau berusia 104 tahun, Ki. Tjokrowasito meninggalkan pesan yang tertulis di Monumen Tapak Prasasti Ki. Tjokrowasito “Lestarikan seni klasik Jawa sebelum kita tercerabut dari akar budaya”
    Berikut gending-gending dolanan karya Ki. Tjokrowasito.

    1. Kae Lho
    2. Ja Ja Ja
    3. Sepur Truthug
    4. Jaran Teji
    5. Padhang Bulan

    3 Comments

    Filed under Budaya, gendhing jawa, Musik

    Tari Pendet

    JNQENa.jpg
    Gending pengiring Tari Pendet yaitu Petegak Pendet.

    Tari Pendet mempunyai hubungan erat dengan adat agama, Pendet diturunkan dari kata “Pendeta” yang berfungsi sebagai media dikala manusia melakukan upacara keagamaan manembah Tuhan. Pendeta juga berarti orang yang menjadi pimpinan agama.
    Tari Pendet berciri gerakan yang khas tentang kehalusan jiwa tertuang dalam dalam lemah gemulainya gerak tangan dan sikap melukiskan seorang Pendeta yang sedang memuja keagungan Tuhan, atau menggambarkan orang Hindu Bali selagi melaksanakan upacara sembahyang di pura.
    Bentuk tari Pendet tergolong klasik yang pada mulanya khusus sebagai tarian upacara dewa, namun sekarang dipergunakan juga untuk menyambut tamu agung atau sewaktu-waktu sebagai pertunjukkan yang umum di tarikan secara masal atau di tarikan oleh lebih dari satu penari putri.

    Leave a Comment

    Filed under Budaya, Musik, seni tari

    Dendang Lebaran – Suara Takbir

    Siti Nurhaliza dalam lagu dendang lebaran yaitu Air Mata Syawal, Anugerah Aidilfitri, Bila Hari Raya Menjelma, Mekar Hari Raya, Meriah Suasana Hari Raya. Nazam Lebaran, Sesuci Lebaran dan Suara Takbir.

    2 Comments

    Filed under Audio, jadul 60-70